Beberapa pemisalan dapat diambil oleh mereka yang mengumpil kesunyataan
ini. Beberapa pemunggahan bisa digoprak oleh mereka yang menginginkan
kesentausaan, sedangkan alam mustahil menyampaikan secara utuh.
Barangkali, orang kemudian memilih suatu letupan pernyataan yang
benar-benar berdentum, katimbang dia mesti menunggu seabad untuk
penungguan nan sia-sia.
Siti Roslina yang bertahan di tapalbatas.
Bagaimanapun, kepergian menuntut penyelesaian. Artinya hanyalah kecil,
bahwasanya setiap manusia kudu berbuat menurut kadar-kemampuan, bilamana
dia telah pernah mengucapkan suatu curahan sanubari. Dan dengan
demikian, tiada yang kelak disesali – oleh siapapun tentunya – bahwa
kita telah berbuat bijak. Dan bahwasanya tiada lain yang ditentukan oleh
pernyataan tinarbuka ini selain bahwa dirinya sanggup mengentas
orang-orang tercinta dari marabahaya itu. Kalau sudah sampai kepada
sikap tegas begini, takkan mungkin bisa dicegahnya, hubaya-hubaya Tuhan
pun tidak mencobanya. Karena dia telah menentukan kata-pasti dalam
hidupnya. Gulang-gulingan pemikiran manusia berkesan kalut.
Siti Roslina!
Di Pondok Marabunta, di pinggir Situ Lengkong, kau sengaja mengasingkan
diri, setelah badai itu menggelegar. Daerah di lembah hijau, di mana
kau hanya akan mendengarkan dengkur tekukur menjelang senjahari, dan
suara alu menumbuk lesung di paruhsiang nan lengang. Tapi, langit dusun
sudah sanggup memupus deru-debur dada, bilamana yang akan diresapkan
memang menjawil ke-satu-pastian. Daerah, yang memasukkan bungkah-bungkah
musim kemarau ke dalam kanal yang lembab berlumut dan berwarna kusam
sepanjang lingkar selatan perkampungan sana. Tapi bila terdengar suara
angin bersungut dan mendesau lewat derai-derai cemara wayang, maka akan
nampak, bahwa bungkah-bungkah itupun meleleh, seperti kristalan es yang
lumer pada ujung-ujungnya, lantas air-lelehan itu mengalir ke bawah,
bercampur dengan air sungai yang hitam anyir itu. Apakah dirimu sempat
memperhatikan pemandangan rutin tiap pagi seperti itu di persemayaman
nan meresahkan kini, Roslina? Atau, ada gumpalan pikiran lain yang
susul-menyerbu benak, kemudian menugaskan dirimu untuk tercenung
beberapa saat sesudah bangkit dari pembaringan nan mengesalkan? Boleh
jadi, kau malah tak perlu mengacuhkan reroncen alam yang bagai mengejek
dan mencibir ini.
“Andaikata segalanya tak menabrak ketenangan
itu, Wan, sulit ditebak, apakah juga orangtuaku tega memperlakukan aku
seperti itu.” Demikian ujarmu malam itu, ketika untuk yang terakhir aku
boleh menatapmu sebebas itu – tapi buat yang pertama kali aku menyalami
tanganmu setelah ‘kebebasan’ secara resmi kauperoleh dari orang yang
pernah menyengsarakan di kota Bandung. “Bicara tentang pengandaian
adalah mirip mimpi siangbolong,” aku memotong agak santak. “Yang kita
temui adalah keruntuhan, Ros…” Tiada yang bertanda benalu, selebihnya
adalah kemasan.
“Kau rupanya ikut-ikutan mengutuk diriku, Wan.”
“Percuma, kalau aku berbuat begitu, Ros. Aku sangat sadar dengan
kehadiran diriku, baik dahulu maupun sekarang ini. Karena, dengan
kutukan itu, sama artinya aku merontokkan harapan ini.”
Kau
menatap sesuatu di kejauhan. Dari jendela itu, nampak jalan berbatu yang
mulai sepi dan pekat, karena tiada lentera penerangnya. Kalau satu-dua
orang lewat, dalam kerudung sarung, atau memikul buah-buahan dari pasar
Cilamaya arah barat, maka suara telapakan kakinya berat menderap di
jalanan yang sempit itu. Kadang-kadang terasa bagai mengeruhkan
ketenangan batin. Beberapa puluh kunang beterbangan di sekitar bukit
seberang, seolah mereka sadar, lebih baik memberikan secuplik-cuplik
sinar damar, daripada malam dibiarkan suram dan hitamtua. Kemudian,
kilatan sinar cumlorot, dari sebuah sentolop, diikuti langkah-langkah
serandal di bebatuan, dan clorot-clorot pun berpindah-pindah, menerangi
belukar, dan sebentar lagi pada padi yang membunting di sawah timurlaut.
Dia adalah si penangkap katak, yang berikatkan kepis di pinggang, dan
hanya berpakaian sederhana. Pada malam desa yang sesunyi itu, senter dan
kehadirannya bagaikan kembang api yang menentramkan. Kerincing
berdenting, dan dia ambyur di bencah-sawah, untuk menangkap buruannya.
Setelah itu, sepi. Sepi. Dengan nafas landung, aku menyiramkan air ke
api.
“Orang seperti aku ini, pantasnya jadi buangan,” desismu
waktu itu. Aku tiba-tiba meremas jemarimu yang halus, tetapi terasa
runcing karena tubuhmu kian kurus. “Tanpa berkata seperti itupun
sebenarnya dikau sudah merasakan jadi buangan dan terlunta. Maaf, aku
bicara sepahit ini. Aku tak bisa mendiamkan samasekali.” Mendatang
jelang serakit tualang.
“Dasar jiwamu suka berlagak penyelamat? Bukan persoalanmu, tapi kau ambil alih sebagai sandungan yang membebalkan, Wan.”
“Jangan salah tampa. Siapa yang berlagak penyelamat? Siapa memilih sesuatu sebagai sandung-sandungan di jalanan berdebu?”
“Kau sendiri, Wan. Mentang-mentang anak ulama terkenal. Padahal, aku
ini apa? Perempuan tanpa kelas, tanpa derajat, tanpa perhatian orang
lain. Pikirkanlah, Wan. Sebelum dirimu tersesat.”
“Sekiranya
beranggapan tentang kesesatan, Ros. Kinipun aku akui, telah berkecimpung
di tengah tebat yang keruh. Namun apa artinya, bagi perjalananku
sendiri buat menjumput kesunyataan ini?”
Roslina terpekur,
menatap renda-renda di sarung bantal itu. Aku belai rambutnya, dan dalam
haru, kucium pipinya yang cekung. Wanita yang dulu begitu jelita dan
membuat abang kandungku tertua mabuk kepayang, hingga lupa anak-isteri,
lupa tanggung-jawab, lupa akan martabat. Keluarga kami geger. Tapi bukan
kesalahanmu, Roslina. Niatmu adalah lebih manis daripada kemanisan
manapun yang pernah diancangkan orang. Kau seorang sekretaris yang
terdidik dan meniti keberhasilan dari likunya kegersangan. Sekuntum
mawar juita, yang mencoba menatap cerlang dunia, dengan melamar di
kantor perusahaan Bang Sulaiman, abangku. Karir pun menghilir bersama
kesempatan nan berbinar. Orang-orang menyayangimu, mengasihimu,
memanjakanmu. Dahulu! Tatkala hayat menderai ke hulu.
Siti
Roslina! Malam yang meredamkan seluruh jiwamu, niscaya juga kurasakan
karena aku sudah terlanjur mengatakan kepada abang, bahwa andaikata
semua itu terajdi, aku akan menjadi tameng terakhir dari keluargaku, dan
juga benteng penghabisan bagimu (karena aku teramat mencintaimu). Pada
papasan yang tergulir, melalui siratan dan kepuasan.
“Wan, Wan.
Aku marah padamu dulu, karena kau bilang terusterang pada ibuku yang
telah menjanda itu, bahwa kedatanganmu adalah untuk menjemputku, dan
mengajakku ke pembuangan di bukit nan sulit didaki itu. Mengapa tak
kaukatakan bahwa kau mengantarkan seorang kekasih abangmu kembali ke
kandang?” Dan senjakala meneteskan likur-lingir.
“Ros,
ingatlah. Wawan tak pernah menyepelekan seseorang, walaupun dia seorang
wanita dan telah dikutuk oleh seluruh penjuru kota sebagai pengrusak
pager ayu, perusak rumahtangga orang lain.” Aku mengatakan dengan
seluruh getaran perasaanku nan terdalam, dan bukan bersandiwara. Aku
memetik daun rumput kulanjana yang pahit, dan mengulumnya, lalu
meludahkan kepahitannya yang berbusa. Aku boncengkan dirimu dengan
sepeda, menuju ke sini, sementara perang dingin antara Bang Leman dengan
isterinya belum kunjung reda. “Ini bukan pengorbanan seorang adik
terhadap kakaknya, Bang,” kataku terbata-bata, pada abangku yang rupanya
telah dua tahun menjadikanmu bukan saja sekretaris pribadi, tetapi juga
kekasih nan tersembunyi. “Harap Abang catat di hati. Tatkala
peristiwanya meluntur dan rahasia ini terbuka, Abang hendak cuci tangan.
Itu hak Abang. Namun Roslina, semoga jangan dikait-kait. Aku hendak
melindunginya.” Waktu itu tengah malam, aku datang kepada abang untuk
menerima perintahnya yang aneh. Sedari sore aku menunggu di belakang
kantornya, dan kemudian menumpang mobil Corolla yang menuju dekat
dermaga.
Kudengar debur laut pasang, dengan ombak yang bagai
bersungut. Sesekali terdengar anak-kapal layar yang memaki kasar karena
benturan pada lunas atau timbaruang. Lantas guyuran air penyiram tubuh,
tanda beberapa awak mandi di luar, memanfaatkan air bersih dari kota,
yang diberi berember-ember dekat gudang. Aku mencium bau anyir ikan yang
keburu mati dalam tangkapan. “Dengarlah, Adikku. Jangan sampai luput.
Tugasmu melenyapkannya.” Aku tumungkul sewaktu mendengar perintah
abangku yang groyak dan parau, seperti dipaksa-paksakan keluarnya itu.
Terasa pada telapak tanganku benda dingin sebesar mangkuk alit
melonjong. Baru aku sadar, kala aku menatap picunya. Ya, sebuah pistol!
Kiranya tugasku jelas: melenyapkan benalu rumahtangganya. Sebulan
sebelumnya, hari-harinya diwarnai perang-mulut dan pertengkaran tiada
henti-hentinya. Apalagi setelah mbakyu menemukan suratmu, Ros, dalam tas
kerja abang, yang berisi pernyataan bahwa kau hamil tiga bulan dan
minta ketegasan sikap abangku. Tapi sebelum abang bersikap jantan,
alih-alih untuk melindungi, malah dia berniat melenyapkan jejak hitam.
“Sungguh, sungguh, lakukan secepatnya. Pakailah mobil ini. Bujuk Si Ros,
supaya mau pergi ke luar.” Aku seperti mendengar rentetan peluru
menyalak, demi kalimat itu terluncur. Aku harus jadi seorang pembunuh?
Dan yang kubunuh adalah wanita yang pernah kukenal baik, bahkan telah
kuanggap adik, ketika sama-sama mengikuti kursus manajemen di kota S?
Aku mesti memungkasi hidup seseorang yang notabene belum pernah
sekalipun menyakiti hatiku? Aku kudu mengakhirinya, sementara
kandungannya telah berumur tiga bulan? Di manakah hai Wawan, rasa
kemanusianmu? Bibirku terkatup. Kudengar kembali suara guyuran air di
tubuh, dekat-dekat bangunan itu. Malam berkabut di luar kota. Pistol
yang kugenggam tadi, kembali kuletakkan segera.
Kupandang
manik-mata abang. Matanya merah menyala; campuran antara rasa sebal,
rendah-diri, bingung, resah, tapi juga culas. Di antaranya ada
kebimbangan yang menyusul. Dia, dia pengecut, makiku dalam hati. Di
tangan abang tergenggam amplop yang entah berisi berapa ratus ribu,
untuk upah melenyapkan sebuah sosok, yang jadi sumber pertentangan
keluarga kami. Aku tahu itu, secara pasti. Kalau aku tak membantunya,
sama artinya dengan tega membiarkan mbakyuku menderita batin yang
berkepanjangan. Atau tega menyaksikan kemenakan-kemenakanku terseret
dalam derita yang diakibatkan keculasan bapaknya. Akankah mereka
tersungkur hancur tanpa dewa-penolong? Kutatap mata abang, yang bagaikan
saga berdarah. Aku berpaling. Membalikkan badan. “Abang, Abang,”
tangisku meledak dalam isak memuput. Tuhanku, aku masih berpegang pada
Kasih-Mu. “Abang, biarkan dia hidup. Biarkan, Bang. Tak tega…”
“Wawan! Kausepelekan kata-kata Abangmu ini? Kau wangkot!”
“Tidak, tapi aku enggan berlumuran darah. Jangan, Bang.” Lantas aku
berlari kencang, meninggalkan dermaga itu, entah ke mana. Aku tak ingat
lagi. Yang kuketahui, aku pingsan, dan dirawat hingga sehari di rumah
seorang polisi yang berkawal di ujung-timur dermaga senyap itu. Setelah
kekuatanku pulih, aku minta diri. Kujujug tempat pondokanmu dan
kuceritakan rencana ini. Kuajak dikau minggat dari kota S. Aku
jelek-jelek begini masih punya hargadiri yang layak. Dari uang
tabunganku yang tak seberapa, kusewa bangunan bekas rumah penjaga-hutan
di kawasan bekas daerah wisata nan ditinggalkan. Dan, aku cancut segera,
untuk membebaskanmu dari kemelut di kota. Aku bertekad untuk
mengawinimu, Siti Roslina. Walau, kekeluargaan antara diriku dan abang
retak sudah. Aku melecehkannya sebagai srigala bernyali ciut.
Siti Roslina, seorang yang telah mengisi hatiku!
Malam begini, di Pondok Marabunta, pinggir Situ Lengkong, hanya aku dan
dikau yang hidup dalam beningnya suasana. Gerimis turun, makin lama
makin lembut, bersama angin bersiul merifuh-rifuh sepanjang lembah.
Derai-derai cemara wayang memperdengarkan kidung kegelisahan tanpa
wasana, seperti yang kita rasakan hari-hari belakangan ini. Karena pintu
kamar ini masih terbuka, angin-derai terasa di kulit-kulitku yang
telanjang. Sekali lagi dalam keremangan luar, nampak sosok-sosok warga
desa dalam kelamun sarung, menuruni bukit, lalu menuju ke jalan setapak
yang menghereng liku lainnya. Menyaksikan kunang-kunang beterbangan
melayang, menukik, berpencaran. Kalau kebetulan beberapa mengumpul pada
satu gumpalan, byar-byar-pet sinarnya terang berkilatan. Sebentar
kemudian, senter pencari katak memotongnya.
“Tidurlah, dan
semoga mimpi malam ini menentramkanmu, Ros,” bisikku menenangkanmu. “Aku
ada di sini, entah sampai kapan, Ros. Kuyakin badai belum berlalu.
Bahkan gempanya masih terasa, bahkan akan menjomplangkan.” Masih
gemulung rahmat terakhir, asapnya melingkar.
“Lalu,
kaukorbankan haridepanmu untuk seorang wanita hina, yang dipurukkan ke
bawah sebagai perusak bahagia kaumnya, Wan?” tangismu kembali
menyentakkan diriku. Aku elus rambutmu yang hitam-halus. Kau cantik,
Ros. Kau tak berhak menderita seperti ini. Tuhan mengasihimu dan
mengutusku menyelamatkanmu dari sergapan maut yang sia-sia. “Ini bukan
sebuah pengorbanan yang tanpa arti, Ros. Sungguh. Ini sekedar suatu
langkah-pastiku sebagai lelaki. Itu saja, tak lebih. Kuambil tindak
terbaik, sebelum kehancuran terjadi.”
Gerimis mengeruntun dalam
hujan lebat. Kututup jendela dan pintu kamar. Kuseka airmatamu nan
deras. Kuseka linangan bahagiaku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar