Aku datang memang tak
sepagi seperti dulu awal semester, namun ini adalah pagi menurut tataran mereka
yang sudah bepenglaman di kampus, yang sudah makan garam dan bisa dibilang
senior, sebab aku tiba dikampus sekitar pukul delapan empat lima menit.
Aku tidak melihat mereka
yang leibih senior dari aku, yang biasa duduk dan nangring di parkiran dibawah
pohon atau di kantin tengah sebelah kantin angkringan itu, disana memang ada
banyak orang hamper semua meja penuh, tak ada meja yang kosong, parkiranpun
penuh dengan kendaraan roda dua, yang didominasi dengan motor keluaran baru dan
metic, mungkin zaman-nya kali untuk metic tak peduli laki waria ataupun wanita,
semua metic, namun aku hamper tertawa dengan teriakan keras seperti aku kalau
beceria bersama sahabat lama, ketika mata ini memperhatikan tulisan sebuah stiker
dimotor vixon, “ cowok kog pake metic, sekalian adja dandan pake lipstik”
, namun kali ini aku hanya sendiri sehingga aku hanya tersenyum, menyaksikan
semua ini, melihat dunia yang tidak jadi kimiat menurut perhitungan suku maya.
Dikantin banyak orang
becerita, suaranya lebih riuh ketika kuliah yang kosong, obrolan nya sangat
serius, raut mukanya tak ceria layaknya anak muda dipagi hari yang menceritakan
tentang kencannya semalam atau tentang semi final liga campions eropa, yang
terjadi semalam. Mereka tak hanya laki- lagi, perempuan juga terjadi semalam
antara real Madrid vs Borsi Dordmun, tak hanya laki- laki, perempun- perempuan
manis juga itu begitu cemas, Nampak jelas dari garis yang tampk dimuka mereka,
seolah sebuah malapetaka akan datang pikirku, namun aku lansung memesan segelas
kopy panas kesukaanku sambil mencari tempat duduk yang masih tersisa.
Kini aku mulai mengerti
dan tau, semua berawal dari aksi yang dilakukan oleh mereka yangmasih, mungkin peduli dengan lingkungan kampus, dengan
orasi- orasi panjang dengan tindakaan yang menurut mereka tidak pernah turun
aksi adalah tindakan tidak berintelek, namun mereka tidak pernah tau bahwa itu
adalah reaksi anak muda yang masih peduli dengan sesame dan lingkungan.
“ Tidak bisa seperti itu,
seharusnya musyawarah dulu, baru aksi”, kata anak muda yang sambil menghisap
rokoknya. Namun aku tak tau seberapakan anak muda itu bergelut dan berhadapan
dengan birokrasi negeri yang selalu menjujung tinggi motos masa mas lulu, dan
aku tak paham seberapah pengalan ia, turun kejalan, namun aku tidak yakin anak
yang paling banyak ngomong ini pernah turun ke jalan utuk membela dirinya
terhadap kesewenangan kekuasaan kampus yang kicil, apalagi masyarak Negara,
tanganya seperti tangan bayi, mukanya seperti seorang wanita yang baru saja
merayakan pesta penikahan. Merka mungkin bagian dari mahsiswa kunang-kunang (
kuliah nangring- kuliah nangring), yang sering temanku bercerita, mereka yang
selau bersantai ditangga- tangga moll, dan liff seper indo, mereka yang narsis
di tempat wisa, entah apa yang telah merasuki pikiran dari pada mereka, mereka
tak lagi tau politik negeri ini seperti apa??, mereka tidak lagi peduli
terhadap juaatan orang yang setiap hari hiruk pikuk bekerja dengan upah yang
begitu murah, penindasaan kini tak tak lagi peduli, mereka tak lagi memikirkan orang yang ada disamping kiri
kanan, sikap masa bodoh kini semakin menjadi- jadi, semua yang aku lihat tak
lagi ada yang bertampang seperti
soewardi soeningrat, seokarno, ataupun hatta, aku tidak melihat ada
cahaya yang siap membela dirinya, rakyat dan negerinya, kini aku hnya melihat
cahaya seperti boy band dari korea yang menjjikan itu.
“Ada apa bung”.? Aku,
mencoba bartanya untuk libih mendalam apa yang aku dapat lewat pesan singkat kalau, pembing PPL-Ku, ngambek dan
menggunurkan diri, akibat lansung dari aksi kemarin. “ itu lo, gara- gara demo, dosen pada marah-
marah, dan tidak lagi mau menjadi pembibing” jawabnya dengan sejuta ekspresi
kekesalan. Sungguh aku tak paham permainan apa yang sedang terjadi, sungguh
dosen- dosen yan sudah menunmpuh S2 dan S3 begitu cepat mengambil suah
keputusan tanpa menconba mengakaji dapak dari dari keputusan itu, suatu
tindakan yang sangat tidak terpuji lagi dan mungkin lebih keji dari aksi demo
yang dilakukan oleh mereka yang belum menyelesaikan S1, mereka yang hanya
berijasah SMA. Sungguh ironis ketika nama dosen pembibingku disebutkan pertama
kali, sebai desen yang mengundurkan diri bimbingan untuk PPL dan Sripsi, bukan
bermaksud untuk meledek namun ini sungguh sangat lucu karean dia adalah orang
nomor satu, di universitas ini dan lagi menempuh pendididakan yang tinggi yang
ketika selesai, gelar P.hd, akan selalu mengikuti dan menempel dibelakang namanya.
Seabab sunguh tak
seharusnya mereka yang berpendidikan tinggi dan mereka yang di matematika tidak
menggunakan ilmya dalam kihidupan sehari-hari, pengambilan sebuah keputusan
yang tanpa mencoba menggali danpak dari putusan ini, apalagi menggunkakan
kajian ilmiah dalam penggambilan sebuah keputusan, memang bukan berarti membuat
sebuah tesis nanum bukankah seharusnya mereka yang terdidik dan berpendidikan
tinggi lebih menggunakan logika yang sehat daripa hanya betumpu pada sebuah
emosi belaka, yang hanya menwa sejuuta masalah akan menysul, bekan ini
perbedaan yang nyata, untuk menujukan garis signifikan dalam pemikiran.
Namun ketika mencoba
kembali melihat reaksi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam melakukan aksi,
mengenai aksi yang hingga tindakan tidak terpuji tanpa melakukan musyawarah. Mereka yang hanya bermodalkan pendidikan SMA
belum bisa dan dengan gejolakan darah muda hingga tidak musyawarah dam
menyapaikan aspirasi, namun kenapa
mereka yang berpendidikan tinggi yang sudah menempuh pendidikan S2 dan S3,
tidak melakukan musyarwarah dengan mahasiswa, yang menjadi tanggung jawabya
untuk membimbing.? Disini tergambar jelas bagai mana kredibiltas para pengajar
yang ada pada subuah Universitas, dan parahnya ketika trjadi di fakultas
keguran, yang setiap tahunya mencetak ribuan guru, yang akan mencerdaskan
kehidupan bangsa katanya.
Sadar atau tidak, ini
adalah sebuah gambaran,sebuah letupan
kesuksesan yang kecil, mereka para demonstran yang telah lelah berada dibawah
sinar matahari dan asap kendaraan, telah duduk tersenyum sambil menikamati kopy
atas keberhasilan tuntutannya. Namun mereka yang menikmatinya, mereka yang nasibnya
dibelakan sungguh tidak meresa , jangankan untuk sebuah ucapan terimakasih
dukukungan penyebaran isu dan pembelaan sungguh tak terjadi, ini seperti sorang
anak yang keluar dari kandangnya
menikmati hari dan menatuk jagung pembrian tuannya lalu pergi, dan entah
termakan zakan, namun ketika ayan itu
pulang pasti suatu saat ia akan berguna bagi tuannya, namun ini sunggah tidak
ada, seperti sebuah hayalan gila dari seorang yang tak tau arah hiduonya,
sehingga ia tak tau Tuhan telah memberinya hidup, atau seperti udara yang telah
membrikan kehupan bagi dia yang sudah gila, yang tak mungkin lagi sadar dan
kemali pada kehupan.
Demonstrasi adalah bagian dari tatanan social yang menggukan kosep demorasi,
seperti yang negeri ini, dan univesitas,
musayawarah untuk mencapai mufakat yang di ulukan oleh orang yang
menganggap dirinya berbangsa Indonesia adlah sebuah halusinasi untuk situasi
sekarang, karena sisterm itu sudah dihilangkan dan sisetem demokrasi. Suatu tatanan
social yang mengedepakan system demokrasi, akan selalu terjadi suatu gerakan
yang namanya demonstrasi. Sauat tatantan social yang menggukan kosep demokrasi
akan dinilai mati atau dipertanyakan ketika tak ada gerakan demonstrasi didalamnya.
Namun saking skeptisnya
bangsa ini, sehingga begitu bencinya terhadap mereka ( aktivis) pergerakan, apakan
ini gambaran bahwa Negara sudah mengalami kejuan, sihingga masyarakatnya sudah
sejahtera, ataukan ini sebuah gambaran bahwa Negara yang katanya, sangat
sosialis dengan semboyan gotong royong sudah hancur berantakan, sehingga ketika
merka yang terlempar dari kehidupan layak mencoba berteriak mencari keadilan
dilarang, menciptakan sebuah septistme terhadap pergerakan demonntrasi. Teriakan
atau seruan untuk tidak mengikuti aksi terus dikumandangkan sejak penurus
bangsa ini mulai masuk di suatu fase baru yaitu universitas, untuk menghilangkan
budaya kritis dan pemberontakan, ataukan adakah dosen- dosen dan mahasiswa
sudah mendapat bayaran dari kaum borjuis untuk memuluskan budaya penghisapan
pada manusia.
Sebuah harapan kecil dari
sebuah warung kopy agar kita sadar akan pentingnya seatu demontrasi di negeri
yang hancur musyawarahnya, karena itulah jalan untuk menentang kesewenangan,
karena kita pasti tidak ikut dalam pengabilan keputusan, karean musyawarah
mencapai mufakat adalah sebuah fatamorgana di tahun 2013 ini.
Yogyakarta, 26 April 2013