Senin, 21 Juli 2014

may day


banayk teman2 mengucapakan selamat untuk hari ini
hari buruh Internasioanal
dan menjadi hari libur Nasioanal
tapi apa guna sebuah ucapan
ketika itu hanya satatus FB atau media sosial lainnya
atau pesan singkat via alat komunikas,i
Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, 
kecuali dua hal:
" bekerja untuk melawan penindasan dan 
melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan" tulis CHE dalam salah satu suratnya
lalu hari ini Anda dimana?
teman-teman pemuda hari ini kemana.??
mari kita aksi nyata bukan sekedar cerita

ilustrasi mesin pencari

Untuk Sang Guru


aku meliahat dirimu dijaan tadi siang
bersama sapasukan sahabatmu
denagn alamamater kapus sendiri
sijaan dan juga singang- simpang jalan

berteriak atas nama kebebasan
mengkritik segala kebijakan
menolak aturan yang merugikan
menutut kebesan pendidikan

itu sungguh luar biasa sahabat
dari pada mereka yang hanya mengucap salam
dan juga selamat hari pendidikan
dalm setatus- setatus di media sosial

dan yang hanya diam diri dalam himpitan
zaman yang terus tidak bersahabat
zaman yang hanya mencari para budak- budak
tak hanya budak biasa tapi juga budak bergelar

namun ada yang membuat air mata jatuh
membuat hati menjadi remuk berantakan
ketika foto sang tokoh terpampang di segala sudut
dan sebuah ucap selamat

selamat atas kegagalan pendidikan
selamat atas matinya pendidikakan
selamat atas mahalnya biaya pendidikan
selamat atas teman- teman yang tuli pada lingkungan
selamat atas papan -pan tuulis dosen
yang buta terhadap kehidupan sosiall

atau guru- guru yang lupa dengan diri sendiri " indonesia"
kiranya ki Hadjar tidak membutuhkan ucapan selamat
tapi ajaranya kita pakai dalam kehidupan
kiranya ki Hadjar tidak butuh fotonya dipajang dimana- mana
tapi idenya dan ajaranya diterapakan dimana- mana

semoga kau tak tuli Tuhan
semoga kau tak buta disana BUNG TORO
semoga pendidikan kita MEMERDEKAKAN KITA
HPY BD'Y SOEWARDI catatnmu selalu kubaca

untuk sahabat

tak seharusnya ini borgol, sebab di memiliki kehidupn
ilustrsi dok. pribadi
Pernah kita sama sama susah Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah

Pernah kita sama sama rasakan Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah Kau

Cukup lama aku jalan sendiri Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa saat ini Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku



Rabu, 05 Juni 2013

C U R H A T


curahan hati
semua curhat
mereka, kamu, juga kita
semua curhat

curhat karena kalau
curhat karena sterss
dan curhat pada orang stess
dan curhat

anak muda curhat lewat facebook
ada yang  lewat tweter
ada yang lewat nangis
semua anak muda

seniman curhat lewat karya
penulis lewat nulis 
semua nulis tebtang curhat

penyayi galau dan curhat
lagunya hanya curhatan
pendengarnya ikutan crhat
dan semua curhat- curhatan

penyair galau lalu curhat
puisinya ikut galau sebabb 
penyairnya ingin curhat
smua curhat

tak ada desa tak ada kota
semua curhat
dinding kota curhat
jalan penuh curhat
jadi curhat- curhata

presiden galau
lalu curhat
ia curhat pada rakyatnya
lalu rakyatnya..???


dari istana galau
lalu curhat
rakyat-nya glau
lalu curhat
pada siapa..???


tak ada yang buka mata
semua buta karena dan curhat
istri curhat pada suami, kalu utang numpuk
nasi abis beras tak ada
lalu sumua curhat pada siapa.??

tak ada curhat tentang kelaparan tentangga
 tak ada curhat tentang anak jalan tampa pakayan
anak kicil tidak ke sekolah
semua tidak ada yang mencurhatkanya

potret negeri galau

Sabtu, 25 Mei 2013

di balik frekwensi bareng aji jogja

Diskusi bedah film documenter tentang perjuangan seorang buruh pena, tau kerenya wartawan dan orang yang sok mencari keadilan, mungusung judul dibalik frekwensi yang berlasung dipendopo Lkis, banguntapan Yogyakarta ini, dihadiri oleh sebagian dari awak media, baik yang di pers umum ataupun bagi mereka yang berproses dan sudah berpengalaman di persma mahasiswa, media yang menggap dirinya media paling indepen dibandingkan media menstrim yang sarat akan keuntungan dan kepentingan akan politik.

Diskusi bedah film yang mengakat tokoh Luviana itu mengadirkan pembicara utama andreas yang dari aliansi jurnalis indepen Yogyakarta dan pak salim. Film yang berdurasi panjang sekitar 2 jam lebih itu sedikit membawa kebosanan namun sedikit terhibur karena film dokumter ini member sedikit informasi tentang media eletronik ( TV ), bagi mereka yang mungkin selama ini telah dinanabobokan oleh tayangan MTTV dan juga mesik pagi ataupun tolk sow yang terkadang ngawur, namun tv berita yang  ada di bumi Indopahit kata Andreas Harsono. Media  ternyata hanya sebagai kendaraan bagi kaum tertentu yang berkempentingan dan juga yang menguasai media tersebut, namun kabar kepemilikan dan pemanfataannya ini adalah sebuah rahasia umum, yang tidak perlu begi dramtis mengenai  mungkin pesan yang ngin disampaikan, tapi aku perlu menyalahkan yang begitu kaget, sebab tayangan yang dikomsumsi oleh masyarakat sekarang adalah sinetron yang keget hingga berminit-menit, sehingga membawa dapak pada pola piker pada masyarakat untuk menanggapai film dibalik frekwensi yang gemar ditonton di tahun 2013 ini.
Alur cerita yang membuat pusing apalagi ketika menambil dua tokoh membuat film ini sedikit membinggungkan, selain tidak terangnya fokus film ini juga tidak to the point, bertele- tele hingga memakan wktu dua jam lebih, diperparah ending yang anti klimaks, sehingga para penonton jadi kecewa, waktu yang lama yang membuat semua pegal- pegal ternya akhirnya tidak sesuai yang diharapkan, namun terlepas dari itu film ini memang perlu ditonton oleh mereka yang suka ninton satu tv, atau bahkan mereka yang suka nonton sinetron dan FTV,sebab ketika kita berada didepan tv berarti kita lagi melakukan konsumsi yang membuat Harytanu jadi tambah kaya.
Dalam pembahasaan malam itu   dengan mengambil sampel dari film dibalik frekwensi itu bahwa  Media siar sekarang telah banyak yang menyalahgunakan frekuensi, menggunakannya untuk kepentingan sekelompok orang,sementara pada prinsipnya, frekuensi itu tidak diperjualbelikan namun frekuensi hanya dipinjamkan oleh Negara untuk digunakan dalam kepentingan bersama (rakyat),media siar juga banyak melakukan  pelanggaran terhadap undang-undang penyiaran. Diperparah lagi UU penyiaran memiliki banyak  kekurangan dalam kekuatan bahasanya hingga akhirnya terbentuk ambiguitas.
Monopoli media sangat gila, Contohnya Hary Tanoe memiliki 40 media massa, artinya ada dominansi kepemilikkan media yang ada di bumi Nusantara. Media yang seyogyanya sebagai sebagai media pilar keempat demokrasi harus Mampu melakukan control social, dan perjanan roda demokrasi. Namun fakta dilampangan berkata lain, media massa justru dimonopoli. Parahnya, yang memonopoli itu politisi, tentu hal ini sangat bertentangan dengan fungsi media. Film  dibalik frekwensi menggambarkan Adanya peran opini politik yang menggunakan media sebagai alatnya. Ini titik dimana media malah memperbodoh massa, yang artinya media telah lari dari fungsinya bahkan sudah berbalik arah dari funsi sesungguhnya.Kekuatan modal dan politik yang bermain, menjauhkan kita dari harapan terhadap peran media, media dijadikan instrument untuk pengamanan industry bisnis, dan politik.
penggawa persma dalam diskusi


Namun, Agus susanto mencoba berbicara dengan  masyarakt melek media.  Dewan pers  dan Persatuan Wartawan Indonesia  memakai anggaran APBN. untuk menuju melek media yang pilar tertinggi memakai anggaran negara untuk masyarakat melek media  gampang- gampang susah karena sistem anggaran sudah ada dan wartawan ada, terkait frekuensi yang dimiliki perorangan jangankan masyarakat umum temen- teman  persma masih belum tau, sehingga begitu dramtisnya menanggapi film nin, sesuatu yang tak seharunya terbaji, sebab orang media harunsya sedikit tau tentang semua bidang ilmu apalagi mengenai media, seperti halnya frekwensi.
Skala masalah yang di tampilkan sangat kecil dalam film ini, sebab si luviana sendiri masih bekecukupan suaminya masih kerja, masih bisa kredit dan masih menaiki mobil ke ATM, walau terkadang naik angkot mungkin biar sedikit  menarik simpati, sebab kalau omongin kesusahn wartawan masih ada yang belum tentu bisa membelikan rumah yang bagus dan bahkan ada yang hingga bingung untuk member makanan untuk keluarga, dan tidak ada media yang minampilkannya. Menarik  juga adalah dokumentasi yang menunjukan konflik langsung face to face  rakyatnya dengan pemilik media, bagaimana pemilik memanfaatkan medianya untuk kepentingan seperti yang dikisahkan dalam film dibalik frekwensi ini.
film ini menunjukan konsekuensi  frekuensi  yang dimiliki segelintir orang  yang mamanfaatkannya sesuai kepentingan pemilik, tujuan film ini sebagai media kampanye mengembalikan frekuensi publik ke kedudukan semula. Film tadi sebenarnya hanya kisah klasik, kisah lama. Isu tersebut sebenarnya sudah lama, selain itu di Film dibalik frekwensi juga menggambarkan  demo yang tidak menghasilkan apa-apa. Film tadi sebenarnya hanya kisah klasik, kisah lama. Isu tersebut sebenarnya sudah lama, terlepas dari begitu banyaknya kekurangan, film ini  sedikit membawa cahaya kecil untuk mengatakan bahwa frekwensi adalah milik kita semua.
“ Dari film dibalik frekwensi ini tergambar jelas dan menunjukkan secara langsung pertarungan face to face antara rakyat dengan penguasa yang diwakili oleh luviana dan surya paloh, selainitu film ini menunjukkan bagaimana bahaya nya ketika media dimiliki kepentingan partai,Skala masalah memang tidak ada apa apanya. Tetapi nilai film ini menunjukkan owner tunggal bisa melakukan segala galanya Film ini sebagai media kampanye untuk mengembalikan frekuensi kepada rakyat”.
tidak hanya dalm wacan, naumun juga turun kejalan
foto saat may day







Kamis, 09 Mei 2013

RAHASIA KEHIDUPAN SEKS PARA PAUS (resensi)



 " Kekuasaan adalah ' obat kuat' sesungguhnya."


Penerbitan buku ini tidak lebih adalah hanya sebuah upaya untuk menghadirkan bacaan yang belum pernah ada. Tanpa bermaksud melibatkan unsur ideologis maupun teologi tertentu.
Seperti komentar The Mail on Sunday dalam cover buku, Rahasia Kehidupan Seks Para Paus ini hanya akan lebih banyak menyenangkan pembaca ketimbang menyinggungnya.
Buku yang garap oleh Nigel cawthorne adalah sebuah kisah yang sangat luar bisa, dengan menggunakan gaya basahasa sastra buku ini begutu mengasikan ketika membaca, namun bukan berate buku ini adalah sebuah karya satra, sebab dalam beberapa bagian terdapat surat- seruat dari para pekau.
Selama 2000 tahun terakhir ini, para paus telah menetapkan agenda seksual bagi hampir seperempat penduduk dunia. Tetapi, sementara mengkhotbahkan kesucian dari sebuah tempat yang tinggi, banyak yang melakukan sesuatu yang merisaukan.

Memang tidak bisa di sangkal perempuan itu sangat luar biasa dan binasa tidak untuk melecekan kaum perempuan namun karena semua pihak mengakui hal tersebut seperti, St Agustinus Soliloquies menilai Rahasia Kehidupan Seks Para Paus memperlihatkan tidak ada yang begitu kuat menjatuhkan jiwa seorang laki-laki melebihi belaian perempuan.
Kisah- kisah masa lalu dari para paus yang begitu banyak menjalin hungan dengan watina bahkan hingga pembunuhan, pemabukan adalah sebuah yang hal yang lumrah namun ternyata prilaku tidak sebabatas mereka remaja, namun lebih dari pada itu, hingga gundik yang dimilliki para paus begitu banya, hingga tersebar dibebeara wilayah bahkan Negara,
Berada dibalin kapel kecil bernama basilica di gereja santu petrus vatikan dengan juba yang sacral dengan keagungan memimpin ibadah dan memimpin umat yang tersebar diseluruh dunia, dan umatpun tentuduk dan memuju Tuhan. Namun sesuatu akan betu terbalik ketika malam tiba, puluhan pelacur akan adan ke tempat perjamuan makan malam sang paus dan para cardinal, menemani santap malam dan berlanjut dengan berpesta hingga pada puncaknya melakuukan hungan intim dengan para pelacur- pelacur cantik di Roma, bahkan satu cardinal melayani tiga hingga empat orang wanita, dan merekapun terlelap tanpa sehelai benang.
Buku yang begitu laris di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerik, saking larisnya buku ini Sudah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa,selain itu  Sex Lives of The Popes  juga dinobatkan sebagai "buku paling kontroversial sepanjang tahun" oleh surat kabar Guardian London saat kali pertama diterbitkan tahun 2004.

    
 Buku ini paparan cerdas dan merupakan penyingkapan humoris tentang kehidupan seks paus mulai dari kepausan di Avignon sampai skandal para paus Borgia di Roma. Bagi mereka yang penasaran dengan kehidupan para paus selama 2000 tahun terakhir ini, akan mendapatkan bacaan menarik dari buku ini.
Kisah- kisah yang begutu asyik sebagai refrensi untuk mencoba melihat sri paus dari kacamata yang beda, tidak hanya kisah tentang gundik- gundik dari para paus namun juga menceriterakan tentang anak- anak haram dari paus bahkan paus yang masa kecilnya juga ternyata anak yang bisa dikatakan haram, di halaman 47, penyajian sedikit berbeda disi menceritarakan terntang pausn joan, merupakan paus perempuan pertama, namun kisah awalnya menjadi paus berpura-pura menjadi laki-laki, namun semua kebusukan itu terkuak ketika dia melahirkan bayi ditengah jalan ketikan dia sedang naik kuda, ini tidak terlepas dari pesta seks di istana kepausan sendiri.
Sebagai lelaki paling berkuasa di bumi dan penghubung langsung dengan Tuhan, segera tampak bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan kepada mereka bagaimana seharusnya bersikap ketika sampai pada persoalan godaan tubuh.

Dalam buku Rahasia Kehidupan Seks Para Paus ini, Nigel kontributor untuk harian-harian bergengsi di Inggris dan Amerika, dengan gaya setengah bercerita menjabarkannya dalam 19 seri mulai kejadian di Uskup Roma hingga cerita Sri Paduka Paus George Ringo.

Di halaman 71, tentang "Pesta Seks Roma" dikisahkan Yohanes XII (955-964) seorang biseks yang tidak pernah puas dalam seksnya dan mengumpulkan para bangsawan muda yang paling lemah dari dua jenis kelamin. Dia dituduh menjalankan sebuah rumah pelacuran dari dalam Gereja St Petrus. Para kekasihnya diberi piala emas yang digunakan dalam misa suci dari Gereja St Petrus. Daftar tuduhan lainnya, dia konon memiliki perjanjian dengan iblis dan mendapatkan kekayaan dari setan, melakukan inses dengan ibunya dan mencabuli para perawan suci yaitu biarawati dan melakukan perzinahan.

       Mengenai pornografi kepausan, dalam seri 12, Nigel memilih masa Renaisans dimana para paus menjadi pendukung kuat seni dan karya tulis. Di masa itu, Martinus V mempekerjakan penulis mesum Poggjo Bracciolini sebagai sekretaris kepalanya, yang terkenal karena koleksi cerita-cerita cabul di mejanya di kantor kepausan.

       Martinus V tidak malu ketika tiba pada persoalan sebuah cerita mesum karya Bracciolini. Dalam sebuah surat kepada seorang teman, Bracciolini berkata bahwa paus "sangat terhibur ketika kepada seorang kepala biara pria berkata kepadanya bahwa dia punya lima anak laki-laki yang akan berperang demi dia. Pada saat itu kabarnya : "Hampir tidak mungkin ada seorang pun dari seribu pendeta yang bisa ditemukannya dalam keadaan suci. Semuanya hidup dalam persetubuhan atau kumpul kebo atau sesuatu yang lebih buruk ", halaman 149.


Selain gambaran tentang seks dari para paus hingga paus Pohanes Paulus ke II, buki ini di juga defadat daftar- daftar nama-nama paus dan anti paus, mulai dari Peter the Apostle tahun 64 hinggatahun 1978 yaitu Yohanes Paulus II, selamat membaca buku menurut Bellfast Telegraph “ sensational” terlukis ki cover.

Kamis, 25 April 2013

dari pojok kantin



Aku datang memang tak sepagi seperti dulu awal semester, namun ini adalah pagi menurut tataran mereka yang sudah bepenglaman di kampus, yang sudah makan garam dan bisa dibilang senior, sebab aku tiba dikampus sekitar pukul delapan empat lima menit.
Aku tidak melihat mereka yang leibih senior dari aku, yang biasa duduk dan nangring di parkiran dibawah pohon atau di kantin tengah sebelah kantin angkringan itu, disana memang ada banyak orang hamper semua meja penuh, tak ada meja yang kosong, parkiranpun penuh dengan kendaraan roda dua, yang didominasi dengan motor keluaran baru dan metic, mungkin zaman-nya kali untuk metic tak peduli laki waria ataupun wanita, semua metic, namun aku hamper tertawa dengan teriakan keras seperti aku kalau beceria bersama sahabat lama, ketika mata ini memperhatikan tulisan sebuah stiker dimotor vixon, “ cowok kog pake metic, sekalian adja dandan pake lipstik” , namun kali ini aku hanya sendiri sehingga aku hanya tersenyum, menyaksikan semua ini, melihat dunia yang tidak jadi  kimiat menurut perhitungan suku maya.
Dikantin banyak orang becerita, suaranya lebih riuh ketika kuliah yang kosong, obrolan nya sangat serius, raut mukanya tak ceria layaknya anak muda dipagi hari yang menceritakan tentang kencannya semalam atau tentang semi final liga campions eropa, yang terjadi semalam. Mereka tak hanya laki- lagi, perempuan juga terjadi semalam antara real Madrid vs Borsi Dordmun, tak hanya laki- laki, perempun- perempuan manis juga itu begitu cemas, Nampak jelas dari garis yang tampk dimuka mereka, seolah sebuah malapetaka akan datang pikirku, namun aku lansung memesan segelas kopy panas kesukaanku sambil mencari tempat duduk yang masih tersisa.
Kini aku mulai mengerti dan tau, semua berawal dari aksi yang dilakukan oleh  mereka yangmasih,  mungkin peduli dengan lingkungan kampus, dengan orasi- orasi panjang dengan tindakaan yang menurut mereka tidak pernah turun aksi adalah tindakan tidak berintelek, namun mereka tidak pernah tau bahwa itu adalah reaksi anak muda yang masih peduli dengan sesame dan lingkungan.
“ Tidak bisa seperti itu, seharusnya musyawarah dulu, baru aksi”, kata anak muda yang sambil menghisap rokoknya. Namun aku tak tau seberapakan anak muda itu bergelut dan berhadapan dengan birokrasi negeri yang selalu menjujung tinggi motos masa mas lulu, dan aku tak paham seberapah pengalan ia, turun kejalan, namun aku tidak yakin anak yang paling banyak ngomong ini pernah turun ke jalan utuk membela dirinya terhadap kesewenangan kekuasaan kampus yang kicil, apalagi masyarak Negara, tanganya seperti tangan bayi, mukanya seperti seorang wanita yang baru saja merayakan pesta penikahan. Merka mungkin bagian dari mahsiswa kunang-kunang ( kuliah nangring- kuliah nangring), yang sering temanku bercerita, mereka yang selau bersantai ditangga- tangga moll, dan liff seper indo, mereka yang narsis di tempat wisa, entah apa yang telah merasuki pikiran dari pada mereka, mereka tak lagi tau politik negeri ini seperti apa??, mereka tidak lagi peduli terhadap juaatan orang yang setiap hari hiruk pikuk bekerja dengan upah yang begitu murah, penindasaan kini tak tak lagi peduli, mereka tak  lagi memikirkan orang yang ada disamping kiri kanan, sikap masa bodoh kini semakin menjadi- jadi, semua yang aku lihat tak lagi ada yang bertampang seperti  soewardi soeningrat, seokarno, ataupun hatta, aku tidak melihat ada cahaya yang siap membela dirinya, rakyat dan negerinya, kini aku hnya melihat cahaya seperti boy band dari korea yang menjjikan itu.
“Ada apa bung”.? Aku, mencoba bartanya untuk libih mendalam apa yang aku        dapat lewat pesan singkat kalau, pembing PPL-Ku, ngambek dan menggunurkan diri, akibat lansung dari aksi kemarin. “  itu lo, gara- gara demo, dosen pada marah- marah, dan tidak lagi mau menjadi pembibing” jawabnya dengan sejuta ekspresi kekesalan. Sungguh aku tak paham permainan apa yang sedang terjadi, sungguh dosen- dosen yan sudah menunmpuh S2 dan S3 begitu cepat mengambil suah keputusan tanpa menconba mengakaji dapak dari dari keputusan itu, suatu tindakan yang sangat tidak terpuji lagi dan mungkin lebih keji dari aksi demo yang dilakukan oleh mereka yang belum menyelesaikan S1, mereka yang hanya berijasah SMA. Sungguh ironis ketika nama dosen pembibingku disebutkan pertama kali, sebai desen yang mengundurkan diri bimbingan untuk PPL dan Sripsi, bukan bermaksud untuk meledek namun ini sungguh sangat lucu karean dia adalah orang nomor satu, di universitas ini dan lagi menempuh pendididakan yang tinggi yang ketika selesai, gelar P.hd, akan selalu mengikuti dan menempel dibelakang namanya.
Seabab sunguh tak seharusnya mereka yang berpendidikan tinggi dan mereka yang di matematika tidak menggunakan ilmya dalam kihidupan sehari-hari, pengambilan sebuah keputusan yang tanpa mencoba menggali danpak dari putusan ini, apalagi menggunkakan kajian ilmiah dalam penggambilan sebuah keputusan, memang bukan berarti membuat sebuah tesis nanum bukankah seharusnya mereka yang terdidik dan berpendidikan tinggi lebih menggunakan logika yang sehat daripa hanya betumpu pada sebuah emosi belaka, yang hanya menwa sejuuta masalah akan menysul, bekan ini perbedaan yang nyata, untuk menujukan garis signifikan dalam pemikiran.
Namun ketika mencoba kembali melihat reaksi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam melakukan aksi, mengenai aksi yang hingga tindakan tidak terpuji tanpa melakukan musyawarah.  Mereka yang hanya bermodalkan pendidikan SMA belum bisa dan dengan gejolakan darah muda hingga tidak musyawarah dam menyapaikan aspirasi, namun  kenapa mereka yang berpendidikan tinggi yang sudah menempuh pendidikan S2 dan S3, tidak melakukan musyarwarah dengan mahasiswa, yang menjadi tanggung jawabya untuk membimbing.? Disini tergambar jelas bagai mana kredibiltas para pengajar yang ada pada subuah Universitas, dan parahnya ketika trjadi di fakultas keguran, yang setiap tahunya mencetak ribuan guru, yang akan mencerdaskan kehidupan bangsa katanya.
Sadar atau tidak, ini adalah sebuah gambaran,sebuah  letupan kesuksesan yang kecil, mereka para demonstran yang telah lelah berada dibawah sinar matahari dan asap kendaraan,   telah duduk tersenyum sambil menikamati kopy atas keberhasilan tuntutannya. Namun  mereka yang menikmatinya, mereka yang nasibnya dibelakan sungguh tidak meresa , jangankan untuk sebuah ucapan terimakasih dukukungan penyebaran isu dan pembelaan sungguh tak terjadi, ini seperti sorang anak  yang keluar dari kandangnya menikmati hari dan menatuk jagung pembrian tuannya lalu pergi, dan entah termakan zakan,  namun ketika ayan itu pulang pasti suatu saat ia akan berguna bagi tuannya, namun ini sunggah tidak ada, seperti sebuah hayalan gila dari seorang yang tak tau arah hiduonya, sehingga ia tak tau Tuhan telah memberinya hidup, atau seperti udara yang telah membrikan kehupan bagi dia yang sudah gila, yang tak mungkin lagi sadar dan kemali pada kehupan.

 Demonstrasi adalah bagian dari  tatanan social yang menggukan kosep demorasi, seperti yang negeri ini, dan univesitas,  musayawarah untuk mencapai mufakat yang di ulukan oleh orang yang menganggap dirinya berbangsa Indonesia adlah sebuah halusinasi untuk situasi sekarang, karena sisterm itu sudah dihilangkan dan sisetem demokrasi. Suatu tatanan social yang mengedepakan system demokrasi, akan selalu terjadi suatu gerakan yang namanya demonstrasi. Sauat tatantan social yang menggukan kosep demokrasi akan dinilai mati atau dipertanyakan ketika tak ada gerakan demonstrasi  didalamnya.
Namun saking skeptisnya bangsa ini, sehingga begitu bencinya  terhadap mereka ( aktivis) pergerakan, apakan ini gambaran bahwa Negara sudah mengalami kejuan, sihingga masyarakatnya sudah sejahtera, ataukan ini sebuah gambaran bahwa Negara yang katanya, sangat sosialis dengan semboyan gotong royong sudah hancur berantakan, sehingga ketika merka yang terlempar dari kehidupan layak mencoba berteriak mencari keadilan dilarang, menciptakan sebuah septistme terhadap pergerakan demonntrasi. Teriakan atau seruan untuk tidak mengikuti aksi terus dikumandangkan sejak penurus bangsa ini mulai masuk di suatu fase baru yaitu universitas, untuk menghilangkan budaya kritis dan pemberontakan, ataukan adakah dosen- dosen dan mahasiswa sudah mendapat bayaran dari kaum borjuis untuk memuluskan budaya penghisapan pada manusia.
Sebuah harapan kecil dari sebuah warung kopy agar kita sadar akan pentingnya seatu demontrasi di negeri yang hancur musyawarahnya, karena itulah jalan untuk menentang kesewenangan, karena kita pasti tidak ikut dalam pengabilan keputusan, karean musyawarah mencapai mufakat adalah sebuah fatamorgana di tahun 2013 ini.

Yogyakarta, 26 April 2013



      

Dibalik Kacamata Pendidikan




Jika anda ingin bercinta pergilah ke perguruan tinggi.
Jika anda inginkan pendidikan pergilah ke perpustakaan.
Frank Zappa, Tokoh rock progresif (1940-1993)


Kalimat tersebut merupakan kalimat yang diucapakan oleh Frank Zappa yang dimuat pada Koran Tempo, Minggu (08/4). Bukan rahasia lagi atau lebih tepatnya mungkin sudah menjadi rahasia umun jika kampus merupakan menara gading yang hanya menciptakan jutaan pekerja yang siap pakai di dunia kerja dan penjara bagi mereka yang ingin belajar dengan merdeka. Tidak bisa dipungkuri karena inilah realitanya. Sebuah sekenario yang sudah tertata rapi hingga ke tingkat internasional, bagaimana sekolah terlebih Perguruan Tinggi (PT) tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa seperti apa yang tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Tapi menciptkan para pekerja di masa depan, dengan berbagai aturan yang dibuat seolah menjerumuskan semua penerus bangsa untuk mau tak mau harus mengikuti garis yang tidak memberi kecerdasan dan kebebasan tapi hanya keterampilan yang notabene akan dipakai beberapa tahun ke depan, sehingga Frank Zappa dengan beraninya berkata bahawa kampus bukan lagi sumber ilmu melain tempat untuk bercinta atau berpacaraan.
Dalam peraturan yang telah disusun dan berganti-gantinya kurikulum membuat mahasiswa tak lagi mencoba untuk berpikir kritis namun hanya belajar dan mencari kesenangan di waktu senggang, tak ada lagi yang suka berdiskusi atau ke perpustakaan, mereka lebih memilih bermain aman dengan kuliah pulang dan bersantai di tempat wisata atau hiburan. Beberapa penjaga perpustakaan mengakui bahwa jumlah mahasiswa yang berkunjung dan meminjam buku tidak mengalami peningkatan seperti jumlah mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi laporan yang hampir sama juga diperoleh ketika  tanaya mengenai jumlah pengunjung memang setiap tahun ada grafik naik tapi tidak sebanding jumlah mahsiswa baru yang datang, dan para pengujung masih didiominasi oleh orang- orang yang sama.
. Namun apakah ini merupakan satu-satunya barometer dari kesuksesaan mahasiswa? Doktrin-doktrin seperti ini sudah tertanam baik semenjak masuk PT mengadakan kuliah perdana, sehingga mahasiswa hanya fokus pada satu titik yang dia tempuh tanpa mencoba meihat apalagi menganalisis dan menanggulangi masalah sosial karena mahasiswa berkompetisi untuk cepat lulus, maka terciptakan akronim mahasiswa  kupu-kupu (kuliah pulang - kuliah pulang). Seperti tulisan dalam majalah tempo edisi Maret 2013 di atas, dari sanalah maka minat mahasiswa untuk berada di perpustakaan ditambah proses yang berbelit-belit, membuat banyak orang yang lari ke perpustakaan online yang lebih praktis dan sederhana.
 Indonesia yang menduduki posisi sepuluh besar pengguna internet didunia, numun tidak semua yang menggunakan internet membuka dan belama disitus perpustakaan online,ketika ditanya pada mahasiswa yang sering menggunakan internet, banyak pengakuan dari mereka, bahwa mereka akan lebih lama di jejaring social seperti faceebok tweeter, dan hanya membuka situs- situs berita dan mengunjungi perpustakaan hanayalah sambilan, bahakan ada yang sudah beberapa tahun menggunakan internet belulum pernah mengujungi perpustakaan online. Masyarak kususnya mahasiswa menghabiskan banyak waktu hanya untuk jejariang social, bahkan ketika ada tugas dan memncari di internet, mahasiswa tidak bisa menyaring sumber, yang terpenting apa yang di cari atau diklik lalau enter itu mencul maka tinggal dicpy lalau paste dan menjadi jawaban, plagiat disisni sungguh luar bisa terjadi, bahkaan 90 % tugas yang diambil dari internet, namun tidak mengkajai kualitas dari data tersebut dan juga terkadang mahasiswa tidak mencatumkan sembur tersebut dalam daftar pustaka.

Ini sudah memnjadi budaya baru yang terjadi pada mahasswa ditengah banjirnya informasi dan terbu luansnya ruang untuk berekspresi, sehingga tidak jarang banyak tulisan yang ada di internet adalah hasil plagiat dari mereka yang rajin untuk mengcopy data dan mempublikasiskan ulang. Dalam kemajuan dunia saat ini membawa dampak yang luar bisa bagi perkembangaan  peradaaban manusia, namun terkadang perubahaan itu tidak selalau membawa kemajuan seperti halnaya dalam hal perkembangaan internet. Namun karena perkembangan yang luar bisa baik dalam informasi ataupun pengetahuan baanyak mmahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi, sehinggaahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi, sehinggaahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi, sehingga  masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi begitu semangat untuk  masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi begitu semangat untuk  masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi begitu semangat untuk membaca, membaca, minimnya minat baca  mahasiswa karena budaya instan yang tinggal dicpy paste saja, namun sangat ironis ketika ini terus terjadi apalagi para pengajar tidak melakuakn tindakan kongkrit mengenai fenomena dari mahsiswa. Munurunya tingkat baca yang terjadi pada mahsiswa membuat mahasiswa tidak tahu bahkan tidak mau tahu mengenai informasi yang terjadi disekitarnya, buda tidak peduli atau apatis terhadap kehidupan.
Predikat sebagai penerus generesi bangsa yang disandang mahasiswa sejak dulu  ini dipertanyakaan untuk mahasiswa sekarang tidak lagi kritis bahkan apatis terhadap lingkungan social apalagi poitik, tadak ada lagi pemuda mahasiswa yang berjuang seperti Sukarno, ataupun Ki Hadjar Dewantara.   

Tidaklah salah jika sebagian besar masyarakat dan aktifis mengangap kampus sebagai menara gading yang memenjarakan seluruh akal, diakiui atu tidak anda sebagai sebagai penghini kampus namun ini adalah realita system terus membejarakan para mahasiswa konsep yang diterapkan pada pendidikan tinggi tidak menyuruh mahasiswa untuk berpikir kritis dan merdeka.
Namun hidup perjuangan masih sangat panjang dan munkin tidak ada ujungnya, , masa depan bangsa ada ditangan para mereka yang ada dikampus, dibalik penjara yang cukup mewah, namun  mahasiswa yang menentukan  arah dan kehidupan bangsa ini. Mahasiswa berjuanglah terus berpikirlah meredeka seperti Ki Hadjar Dewantara ajarkan, agar tercpailah  kehidupan bangsa yang cerdas , yang menjadi cita- cita bangsa seperti apa yang telah tertancap pada pembukaan undang- undang dasar 1945.

Kamis, 11 April 2013

hasil suvei


Washington (AFP/ANTARA) - Remaja semakin sering menipu orang tua mereka tentang situs apa yang mereka akses dan apa yang mereka lakukan secara online, teknologi keamanan perusahaan McAfee mengatakan pada Senin, dalam survei terbaru tentang generasi muda dan Internet.

Dalam sebuah pernyataan, McAfee mengatakan hampir setengah dari orang tua di Amerika Serikat yang disurvei berpikir remaja mereka mengatakan semua hal yang dilakukan secara online kepada mereka, dan bahwa mereka merasa di kontrol ketika memantau tindakan online anak-anak mereka.

"Namun, studi tersebut menunjukkan bahwa remaja yang membohongi orang tua mereka meningkat, karena lebih dari 70 persen remaja telah menemukan cara untuk menghindari pengawasan orang tua," katanya.

Dibandingkan dengan 2010 ketika 45 persen remaja mengatakan mereka telah menyembunyikan perilaku online mereka dari orang tua, kata McAfee, yang dikendalikan orangtua melalui program perangkat lunak anti-virus yang digunakan di rumah.

Membersihkan sejarah mesin pencari internet, menutup atau meminimalkan mesin pencari ketika orangtua masuk ke ruangan itu, adalah cara paling populer untuk membodohi ibu dan ayah, kata McAfee.

Lainnya termasuk menyembunyikan atau menghapus pesan singkat atau video, berbohong atau menghilangkan rincian tentang aktivitas online, menggunakan komputer yang tidak diperiksa orang tua, dan menggunakan perangkat telepon genggam seperti smartphone.

"Mereka adalah generasi yang begitu nyaman dengan teknologi yang melebihi orang tua mereka dalam memahami dan menempatkan perilaku yang menyebabkan keselamatan mereka terancam," kata ahli keamanan online McAfee, Stanley Holditch, dalam pernyataan itu.

McAfee melakukan survei online untuk mewawancarai 1.004 remaja berusia 13 sampai 17, dan 1.013 orang tua dari remaja di Amerika Serikat antara 4 Mei dan 29 Mei. Margin kesalahan keseluruhan adalah 2,2 persen.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 43 persen remaja telah mengakses simulasi kekerasan online, 36 persen topik seksual online, dan 32 persen konten telanjang atau pornografi online, "tanpa menyadari bahaya online yang mengintai."

Survei itu juga menemukan bahwa 15 persen remaja telah membajak akun jaringan sosial, 16 persen mengakui mencari jawaban ujian sekolah melalui smartphone mereka, dan 20 persen mengakhiri persahabatan karena akun jaringan sosial. (ia/ml)