bulan yang sangatlah spesial bagi umat muslim dan bangsa indonesia, dalam usia yang baru 67 tahun indonesia, marayakan hari pembebasannya pada bulan ramadon, sebuah situasi yang tak sering terjadi,
namun terkang kita dari kalangan bawah hingga atas tak pernah menyadari ini sebuah anugerah, terkadang kita tidak bersama mewarnai ibu pertiwi dengan keragaman yang kita miliki, namun kadang sikap egois kita yang menghancurkan semua ini, kita tak pernah merasakanya indah dan damai.
kasus-kasus kekerasan terjadi seolah semua jadi hal biasa, pelanggaran HAM terkandang merupakan kewajiban dari aparat dan penegak serta penguasa, sikap antolerasi sering meliputi dan menyelimutyi kita, dengan dalil ajaran agama, pribadi yang berbeda sering dijadikan korban, kita tak pernah merasa mereka itu harus disayangi, dan dikasihani,dan bagian dari kita bukan sebaliknya.
kasusu-kasus yang terjadi seolah sebuah luka lama yang tek pernah sembuh, malah slalu dipelihara, kasusus-kasus dibirokrasi tak pernah ada ujung penyelesaian, apakan disana tak ada terang, sehingga tak bisa membedakan yang baik dan yang benar, slalu saja tersandung kasus yang sama, seolah korupsi sebagai bgian dari jabatan.
akankah 17 agustus hanya semata merupakan hari ulang tahun, yang perlu diperingati dengan mengadakan berbagai macam lomba-lomba dan kegiantan yang bersifat kesenangan semata, bahkan sebagai sarana untuk ajang penghamburan uang negara, seperti yang terjadi di Istan, dimana dikala sebagian besar masyarakat tersedak, berhimpitan hingga tercepit dalam merebut sembako murah, malah pemimpinan kita berfoya-foya, seperti dalam rangka memperingati hari lahir RI presiden melakukan dua kali pidato kenegraan, dan dalam menyelengarakan pidato itu negara kita ini menghabiska 1,2 miliar, suatu kejadian yang sangat konyol ketika kita melihat realita yang terjadi ditengah kehidupan masyarakat.
namun disissi lain beberapa waktu lalu salah satu mentri kabinet bekata, bahwa kita perlu bersyukur karena angka kemiskin meurun menjadi 12, ,,% namun apakah itu sesuai dengan realita dilaoangan atau hanya sebuh hasil jadian yang bodoh.??? dan terkadang takmasuk logika.??
masih begtu banayaknya masyarakat yang tak tau arah hidupnya, dari pusat ibo kota, bergeser ke sidoarjo, hingga ke paling ujung timur,. banyak masyarakat yang kehilangan Tanah nenek mayangnya tak tau kenapa.?? jika kita kaji lebih dalam dan lebih jau mungkin butuh separuh dari usia 67 hanya untuk mendata semua serta menjelaskan semua malasah yang terjadi dan dirasakan oleh bangsa,Negara dan masyarakat. Namun kita sebagai kaun termajinal berstu hati dan pikiran marilah kita berdo'a, semoga saja negara ini cepat sadar dari mimpi dan hayalannya ini, dan segara berbenah kehidupan masyakartanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar