lanjutan : http://rionpatriot.blogspot.com/2012/08/ujung-jalan.html
Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.
Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.
"He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini".
Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.
"Maaf, Pak" ucapku dengan sura terbata-bata.
"Aku pikir emer ini tidak dipakai lagi" dengan suara gagap ketakutan.
"Letakkan lagi di tempatnya tadi, kalau tidak saya panggil polisi"
"Maaf, pak, jangan.. Jangan panggil polisi pak" ucapku lagi memohon dan hampir menangis dan meletakkan ember bekas tersebut ke tempatnya semula.
"Sini kau!" bentak laki-laki tersebut dan saat aku mendekatinya, laki-laki tersebut langsung menarik kupingku, menjewernya dengan kuat.
"Kecil-kecil sudah jadi maling, besarnya mau jadi apa, ah?"
"Ampun pak, aku pikir ember itu tidak dipakai lagi, aku baru kali ini melakukannya".
"Sudah mencuri, bohong lagi" bentak laki-laki tersebut dan semakin kuat tangannya menjewer kupingku.
"Ampun pak, ampun....." ucapku memohon menahan sakit sehingga aku menangis.
"Kurang ajar, apa tidak pernah diajarkan orang tau kau, ini"
Aku hanya diam menunduk, laki-laki tersebut melepaskan tangannya pada kupingku dan memeriksa karung goniku.
Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.
"He! Berani sekali kau mencuri di siang bolong begini".
Tubuhku langsung lemas dan sedikit gemetar, berbalik melihat laki-laki di belakangku yang memandangku dengan tidak bersahabat, melototkan matanya.
"Maaf, Pak" ucapku dengan sura terbata-bata.
"Aku pikir emer ini tidak dipakai lagi" dengan suara gagap ketakutan.
"Letakkan lagi di tempatnya tadi, kalau tidak saya panggil polisi"
"Maaf, pak, jangan.. Jangan panggil polisi pak" ucapku lagi memohon dan hampir menangis dan meletakkan ember bekas tersebut ke tempatnya semula.
"Sini kau!" bentak laki-laki tersebut dan saat aku mendekatinya, laki-laki tersebut langsung menarik kupingku, menjewernya dengan kuat.
"Kecil-kecil sudah jadi maling, besarnya mau jadi apa, ah?"
"Ampun pak, aku pikir ember itu tidak dipakai lagi, aku baru kali ini melakukannya".
"Sudah mencuri, bohong lagi" bentak laki-laki tersebut dan semakin kuat tangannya menjewer kupingku.
"Ampun pak, ampun....." ucapku memohon menahan sakit sehingga aku menangis.
"Kurang ajar, apa tidak pernah diajarkan orang tau kau, ini"
Aku hanya diam menunduk, laki-laki tersebut melepaskan tangannya pada kupingku dan memeriksa karung goniku.
"Apa kau tidak sekolah, ah" bentak laki-laki itu lagi dan aku mengangguk menjawabnya.
"Malas, ah?, mau jadi apa kau ini, sudah tidak sekolah, maling dan sudah besarnya mau jadi rampok yah?"
"Tidak tidak pak, jawabku.
"Lalu apa?"
"Ina tidak punya uang untuk menyekolahkan kami"
Laki-laki tersebut menatapku tajam, menyimak perkataanku, memastikan apa aku berbohong atau berkata benar padanya. Perasaan lega saat aku di suruh pergi juga akhirnya dan memenuhi janjinya untuk tidak akan menampakkan mulalu di sekitar rumahnya lagi. Berbagai sumpah serapah aku ucapkan dengan pelan pada laki-laki tersebut sambil meninggalkan pekarangan belakang rumahnya.
Sebulan kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan laki-laki galak tersebut dan sedikit terkejut saat laki-laki tersebut mengajakku ke rumahnya dan memberikan ember yang pernah aku incar beserta barang-barang bekas lainnya. Mimpi apa aku semalam, begitu banyak barang-barang bekas yang aku dapatkan hari ini, gumamku.
"Satu karung saja kau bawa dulu, yang satu tinggalkan dulu, nanti kau jeput"
Aku mengikuti saran laki-laki tersebut. Dan hari-hari berikutnya, laki-laki tersebut memberikan barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku ternyata salah, laki-laki tersebut ternyata sangat baik dan selalu menasehatiku. Aku jadi malu mengingat kejadian pertama kali itu dan beberapa kali meminta maaf padanya atas kekeliruanku. Karena ember bocor aku jadi berniat mencuri, karena ember bocor aku jadi malu dan karena ember bocor itu juga aku mengenal Pak Iwan.
Suatu hari, Pak Iwan melihat sendir keadaan keluargaku.
"Hanya rumah berdinding tepas inilah peninggalan suamiku, dan anak-anak" ucap Ina
"Ido sangat membantu saya, penghasilannya dari barang-barang bekas itu bisa menambah untuk membeli beras dan lainnya, sementara saya bekerja di pasar jadi kuli angkat barang atau membantu pedagang menjual barangnya kalau diminta".
Singkat cerita, aku beserta adikku diangkat Pak Iwan sebagai anak angkatnya, dan aku tidak perlu mencari barang-barang bekas lagi.
"Kau harus sekolah dan juga Adik-Adikmu, sekolah yang rajin biar pintar dan suatu saat kalau sudah kerja kan bisa bantu Inang" pesan Pak Irwan.
Walau aku bukanlah tergolong anak yang pintar, namun aku selalu menurut, mengikuti nasehat Bapak angkatku itu, dan juga Bapak angkat bagi ke tiga adikku, tapi bagimana dengan Ina? Apa Pak Irwan mengangkatnya sebagai anak? Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana mungkin, tapi jika Pak Irwan mau mengawini Ina, pasti kami akan tinggal di rumahnya yang besar, kami jadi orang kaya, tapi mana mungkin, Pak Irwan khan sudah punya isteri yang cantik dan baik hati, yang pasti kalau Pak Irwan kawin dengan Inang ceritanya akan berubah pastinya yah.
by : https://www.facebook.com/rhionk#
"Malas, ah?, mau jadi apa kau ini, sudah tidak sekolah, maling dan sudah besarnya mau jadi rampok yah?"
"Tidak tidak pak, jawabku.
"Lalu apa?"
"Ina tidak punya uang untuk menyekolahkan kami"
Laki-laki tersebut menatapku tajam, menyimak perkataanku, memastikan apa aku berbohong atau berkata benar padanya. Perasaan lega saat aku di suruh pergi juga akhirnya dan memenuhi janjinya untuk tidak akan menampakkan mulalu di sekitar rumahnya lagi. Berbagai sumpah serapah aku ucapkan dengan pelan pada laki-laki tersebut sambil meninggalkan pekarangan belakang rumahnya.
Sebulan kemudian tanpa sengaja aku bertemu dengan laki-laki galak tersebut dan sedikit terkejut saat laki-laki tersebut mengajakku ke rumahnya dan memberikan ember yang pernah aku incar beserta barang-barang bekas lainnya. Mimpi apa aku semalam, begitu banyak barang-barang bekas yang aku dapatkan hari ini, gumamku.
"Satu karung saja kau bawa dulu, yang satu tinggalkan dulu, nanti kau jeput"
Aku mengikuti saran laki-laki tersebut. Dan hari-hari berikutnya, laki-laki tersebut memberikan barang-barang bekas yang tidak dipakainya lagi kepadaku. Dugaanku ternyata salah, laki-laki tersebut ternyata sangat baik dan selalu menasehatiku. Aku jadi malu mengingat kejadian pertama kali itu dan beberapa kali meminta maaf padanya atas kekeliruanku. Karena ember bocor aku jadi berniat mencuri, karena ember bocor aku jadi malu dan karena ember bocor itu juga aku mengenal Pak Iwan.
Suatu hari, Pak Iwan melihat sendir keadaan keluargaku.
"Hanya rumah berdinding tepas inilah peninggalan suamiku, dan anak-anak" ucap Ina
"Ido sangat membantu saya, penghasilannya dari barang-barang bekas itu bisa menambah untuk membeli beras dan lainnya, sementara saya bekerja di pasar jadi kuli angkat barang atau membantu pedagang menjual barangnya kalau diminta".
Singkat cerita, aku beserta adikku diangkat Pak Iwan sebagai anak angkatnya, dan aku tidak perlu mencari barang-barang bekas lagi.
"Kau harus sekolah dan juga Adik-Adikmu, sekolah yang rajin biar pintar dan suatu saat kalau sudah kerja kan bisa bantu Inang" pesan Pak Irwan.
Walau aku bukanlah tergolong anak yang pintar, namun aku selalu menurut, mengikuti nasehat Bapak angkatku itu, dan juga Bapak angkat bagi ke tiga adikku, tapi bagimana dengan Ina? Apa Pak Irwan mengangkatnya sebagai anak? Padahal Inang jauh lebih tua dari Pak Irwan, atau Ibu angkat?, ah.. Mana mungkin, tapi jika Pak Irwan mau mengawini Ina, pasti kami akan tinggal di rumahnya yang besar, kami jadi orang kaya, tapi mana mungkin, Pak Irwan khan sudah punya isteri yang cantik dan baik hati, yang pasti kalau Pak Irwan kawin dengan Inang ceritanya akan berubah pastinya yah.
by : https://www.facebook.com/rhionk#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar