Minggu, 12 Agustus 2012

pinggir kota


Sejak meninggalnya dedi, kehidupan kami sangat memprihatinkan. Ina harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya. Sebagai anak laki-laki yang paling besar, aku sedikitnya terpanggil untuk membantu meringankan beban Ina, walau usiaku masih sangat-sangat muda untuk bekerja. Umurku 11 tahun dan sudah setahun yang lalu sudah meninggalkan bangku sekolah karena faktor biaya.

    Dari hasil barang-barang bekas yang aku dapatkan, sedikitnya membantu Ina untuk memenuhi kebutuhan dasar kami. Dan seperti biasa aku berkeliling mencari barang-barang bekas dari tempat-tempat sampah orang kaya dengan karung goni yang selalu setia di atas pundakku, sementara sebuah gancu mengaduk-aduk tempat-tempat sampah tersebut, mencari barang bekas yang laku untuk dijual.

Setelah mengambil beberapa botol bekas yang berada di dalam bak sampah dan memasukkannya ke dalam karung goni, mataku yang begitu awas dengan barang-barang bekas melihat ember besar yang terletak begitu saja dalam posisi terbalik, kelihatan pecah pada sisi pantatnya.

Dengan sangat hati-hati, mengecek keadaan sekeliling dan merasa aman aku rasa bahwa tidak akan ada yang melihat akan aksi yang akan aku lakukan nantinya dan ditambah dengan dorongan oleh bisikan-bisikan nafsu untuk mengambil barang tersebut, aku langsung membuka kunci grendel pagar rumah tersebut dan memasukinya. Begitu beraninya diriku mengambil ember tersebut dan memasukannya ke dalam karung goni. Keberanianku langsung menciut tatkala mendengar suara keras membentakku dari arah belakang.



by : https://www.facebook.com/rhionk


Tidak ada komentar:

Posting Komentar