Rhion hironimus
Waktu di telepun menunjukan pukul 03.00, tidak ada pesan ataupun
panggilan masuk tadak seperti biasanya
dalam tiga hari terakhir, semua pada terlelap dalam kelelahan dan kecapean sehingga tak ada satupun
yang membalas pesan singkat yang kukirim. Suhu tidak begitu dingin sebab hanya
beberapa meter dari lautan luas, aku duduk didepan monumen bom bali 1, tepat dipinggir trotoar
yang tak begitu ramai seperti yang aku rasakan di jogja ketika suasana tengah
malam
Waktu terus
berjalan detik demi detik tak tersa waktu sudah menujukankan pukul 04, kurang 15 menit, tak
ada yang membersihkan jalan ataupun sampah dijalan-jalan,atau dipinggiran jalan
ataupun juga
ditrotoar. Yang
biasa digunakan oleh mereka yang jalan kaki, aku duduk sambil menyalakan sebatang
rokok sisa pemberian temanku dari solo, waktu acara dies natalis perhimpunan pers mahasiwa
Indonesia ( PPMI), di Universitas Hindu Indonesia. Semua terasa beda dengan kota yang aku
tempati sejak tiga tahun lalu. Bukan bermaksud untuk banding membanding sebagai kota tujuan
pariwisata, namun disini aku menumukan banyak hal yang tak pernahkudapatkan
dankurasakan bahkan jauh diluar perkiraanku.
Lama aku terdiam
dalam kebisingan kota yang terkenal dengan pantai kuta nya, aku merasakan
dengan jelas bisingnya musik-musik dugem, musik dengan aliran DJ dari tempat-tempat yang tak jauh dari tempat yang
aku duduki, disini aku mendapatkan dan menyaksikan bagaimana tempat untuk
melepas penat malam, dengan bergoyang ditemani musik yang begitu cepat bersama minuman-minuman yang beralkohol. Mereka berdibaris rapi
seperti barisan angringan yang ada di alun
– alun kota Yogyakarta, tanpa tertutup tempat ini begitu terbuka tepat berada dipinggir jalan
disamping trotoar semua berjalan dengan begitu nikmatnya malam, sesekali orang
dengan berbadan tinggi berhidung mancung berbulu labat berjalan dengan sempoyongan lewat didepanku
sambil
memeluk lawan jenis yang berambut panjang pirang yang hanya menuggunakan baju seketiak dan celana
pendek sekali, yang sering kami menyebutnya celana boxer di jogja.
Mereka banyak
sekali bahkan ada yang berjalan dalam gerombolan dengan jumlah 12 hingga 15
orang, mereka berjalan bersama- samadengan sempoyongan dan tertawa lebar.Mereka lewat di depan diriku yang duduk bersila di atas trotoar. Seperti lazimnya orang
yang duduk sambil makan dipinggir angringan dengan beralaskan tikar. Namun,kali ini aku hanya beralaskan celana yang sudah tiga hari aku tidak ganti.
foto istimmewa
Aku tak sempat
menghitung berapa banyak orang yang lalu lalang disini namun aku lupa berapa
jumlah mereka, tapi dari sekian banyak hanya satu polisi yang berpakaian rapi dengan pakaiandinasnya. Dan ada beberapa satpam yang berpakaian layaknya orang
berpakaian di
keramaian,
selain diriku. Disini aku menemukan banyak orang yang pakaiannya hampir sama, tak saja mereka
yang berwarna merah. Namun,juga mereka yang berkulit sawo matang, warna kulit yang hampir sama dengan aku dan pak
polisi. Yang
mondar mandir menjalankan tugasnya sendiri tanpa ditemani sahabatnya untuk mengatur
lalulintas.
Begitu panjang antrian itu, mesin mobilnya masih menyala namun meraka tidak
beranjak dari tempatnya sejak lima menit
yang lalu, inikah yang namanya macet ? aku tak tau sebutan untuk antrian mobil
dan taxi yang panjang di tengah orang yang asik terlelap dalam mimpinya, namun
tidak untuk mereka yang mengendarai taxi dan mobil yang terjebak dalam antrian
panjang ini, taka da polantas di ujung sana, disini ditengah tepat di depan
monument bom bali ini, itupun hanya seorang diritanpa ditemani sahabatnya,
suatu pemendangan dan cerita yang tambah unik suasana yang sangat jauh dari
pikiran sederhanaku tentang pulau dewata, surganya dunia, pemandangan yang
sering aku saksikan di ibu kota Jakarta lewat laya kaca, namun siapa yang tak
tau kalau Jakarta bukan hanya ibu kota dan kota banjir namun juga terkenal
dengan kota macet terparah, namun itu terjadi pada waktu berangkat dan pulang
kantor ataupun kerja, namun ini bukan waktunya orang berangkat kerja atau
ngantor, tapi ini waktunya untuk terbang tinggi bersama mimpi malam. Macet memang
bukan pemandangan yang indah untuk lihat apalagi nikmatak dirasakan namun semua
terjadi. Entahlah dua tiga, empat lima jam lagi akan seperti apa.?.Di waktu yang terburu
bergerak cepat sehingga tanpa sadar, sebentar lagi akan terdengar suara azan
subuh bila aku lagi berada di jogja atau di jawa.
Ini terus
terjadi dalam waktunya, setiap malam setiap pagi menjelang matahari terbit.Semua terus terjadi. Hingga pada
suatu ketika ini menjadi kebiasaan dan bukan hal yang untuk atupun hal yang tak
biasanya lagi.Seiring dengan barjalannanya waktu,kebiasaan yang sering terjadi dan sering terjadi akan menjadi sebuah
kebudayaan, dan
mungkin anakku nanti apalagi usiaku yang baru menginjak 21 tahun, bukan cucuku melihat
dan merasakaan yang kurasakan sekarang ini, bukan lagi menjadi suatu yang
sering tapi menjadi kebuadyaan mereka kelak.
Tanpa terasa
separuh dari isi dalam bungkusaan rokok lokalku habis, waktu di hpku menunjukan
05.15 pagi, matahari belum terbit namun cahaya lampu mulai kalah dengan cahaya
alam yang lambat laun terus memberi cahaya bagi kehidupan manusia yang ada
dibawah kolong langit, dandengan suara dan semangat terisisa kuucapakan “
selamat pagi bali”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar