Senin, 04 Maret 2013

BALI INDONESIA



Rhion hironimus

Waktu di telepun menunjukan pukul 03.00, tidak ada pesan ataupun panggilan masuk  tadak seperti biasanya dalam tiga hari terakhir, semua pada terlelap dalam kelelahan dan kecapean sehingga tak ada satupun yang membalas pesan singkat yang kukirim. Suhu tidak begitu dingin sebab hanya beberapa meter dari lautan luas, aku duduk didepan monumen bom bali 1, tepat dipinggir trotoar yang tak begitu ramai seperti yang aku rasakan di jogja ketika suasana tengah malam
Waktu terus berjalan detik demi detik tak tersa waktu sudah menujukankan pukul 04, kurang 15 menit, tak ada yang membersihkan jalan ataupun sampah dijalan-jalan,atau dipinggiran jalan ataupun juga ditrotoar. Yang biasa digunakan oleh mereka yang jalan kaki, aku duduk sambil menyalakan sebatang rokok sisa pemberian temanku dari solo, waktu acara dies natalis perhimpunan pers mahasiwa Indonesia ( PPMI), di Universitas Hindu Indonesia. Semua terasa beda dengan kota yang aku tempati sejak tiga tahun lalu. Bukan bermaksud untuk banding membanding sebagai kota tujuan pariwisata, namun disini aku menumukan banyak hal yang tak pernahkudapatkan dankurasakan bahkan jauh diluar perkiraanku.
Lama aku terdiam dalam kebisingan kota yang terkenal dengan pantai kuta nya, aku merasakan dengan jelas bisingnya musik-musik dugem, musik dengan aliran DJ dari tempat-tempat yang tak jauh dari tempat yang aku duduki, disini aku mendapatkan dan menyaksikan bagaimana tempat untuk melepas penat malam, dengan bergoyang ditemani musik yang begitu cepat bersama minuman-minuman yang beralkohol. Mereka berdibaris rapi  seperti barisan angringan yang ada di alun – alun kota Yogyakarta, tanpa tertutup tempat ini begitu terbuka tepat berada dipinggir jalan disamping trotoar semua berjalan dengan begitu nikmatnya malam, sesekali orang dengan berbadan tinggi berhidung mancung berbulu labat berjalan dengan sempoyongan lewat didepanku sambil memeluk lawan jenis yang berambut panjang pirang yang hanya menuggunakan baju seketiak dan celana pendek sekali, yang sering kami menyebutnya celana boxer di jogja.
Mereka banyak sekali bahkan ada yang berjalan dalam gerombolan dengan jumlah 12 hingga 15 orang, mereka berjalan bersama- samadengan sempoyongan dan tertawa lebar.Mereka lewat di depan diriku yang duduk bersila di atas trotoar. Seperti lazimnya orang yang duduk sambil makan dipinggir angringan dengan beralaskan tikar. Namun,kali ini aku hanya beralaskan celana yang sudah tiga hari aku tidak ganti.

                                                                                        foto istimmewa

Aku tak sempat menghitung berapa banyak orang yang lalu lalang disini namun aku lupa berapa jumlah mereka, tapi dari sekian banyak hanya satu polisi yang berpakaian rapi dengan pakaiandinasnya. Dan ada beberapa satpam yang berpakaian layaknya orang berpakaian di keramaian, selain diriku. Disini aku menemukan banyak orang yang pakaiannya hampir sama, tak saja mereka yang berwarna merah. Namun,juga mereka yang berkulit sawo matang, warna kulit yang hampir sama dengan aku dan pak polisi. Yang mondar mandir menjalankan tugasnya sendiri tanpa ditemani sahabatnya untuk mengatur lalulintas. Begitu panjang antrian itu, mesin mobilnya masih menyala namun meraka tidak beranjak dari tempatnya sejak  lima menit yang lalu, inikah yang namanya macet ? aku tak tau sebutan untuk antrian mobil dan taxi yang panjang di tengah orang yang asik terlelap dalam mimpinya, namun tidak untuk mereka yang mengendarai taxi dan mobil yang terjebak dalam antrian panjang ini, taka da polantas di ujung sana, disini ditengah tepat di depan monument bom bali ini, itupun hanya seorang diritanpa ditemani sahabatnya, suatu pemendangan dan cerita yang tambah unik suasana yang sangat jauh dari pikiran sederhanaku tentang pulau dewata, surganya dunia, pemandangan yang sering aku saksikan di ibu kota Jakarta lewat laya kaca, namun siapa yang tak tau kalau Jakarta bukan hanya ibu kota dan kota banjir namun juga terkenal dengan kota macet terparah, namun itu terjadi pada waktu berangkat dan pulang kantor ataupun kerja, namun ini bukan waktunya orang berangkat kerja atau ngantor, tapi ini waktunya untuk terbang tinggi bersama mimpi malam. Macet memang bukan pemandangan yang indah untuk lihat apalagi nikmatak dirasakan namun semua terjadi. Entahlah dua tiga, empat lima jam lagi akan seperti apa.?.Di waktu yang terburu bergerak cepat sehingga tanpa sadar, sebentar lagi akan terdengar suara azan subuh bila aku lagi berada di jogja atau di jawa.
Ini terus terjadi dalam waktunya, setiap malam setiap pagi menjelang matahari terbit.Semua terus terjadi. Hingga pada suatu ketika ini menjadi kebiasaan dan bukan hal yang untuk atupun hal yang tak biasanya lagi.Seiring dengan barjalannanya waktu,kebiasaan yang sering terjadi dan sering terjadi akan menjadi sebuah kebudayaan, dan mungkin anakku nanti apalagi usiaku yang baru menginjak 21 tahun, bukan cucuku melihat dan merasakaan  yang kurasakan  sekarang ini, bukan lagi menjadi suatu yang sering tapi menjadi kebuadyaan mereka kelak.
Tanpa terasa separuh dari isi dalam bungkusaan rokok lokalku habis, waktu di hpku menunjukan 05.15 pagi, matahari belum terbit namun cahaya lampu mulai kalah dengan cahaya alam yang lambat laun terus memberi cahaya bagi kehidupan manusia yang ada dibawah kolong langit, dandengan suara dan semangat terisisa kuucapakan “ selamat pagi bali”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar