Kamis, 25 April 2013

Dibalik Kacamata Pendidikan




Jika anda ingin bercinta pergilah ke perguruan tinggi.
Jika anda inginkan pendidikan pergilah ke perpustakaan.
Frank Zappa, Tokoh rock progresif (1940-1993)


Kalimat tersebut merupakan kalimat yang diucapakan oleh Frank Zappa yang dimuat pada Koran Tempo, Minggu (08/4). Bukan rahasia lagi atau lebih tepatnya mungkin sudah menjadi rahasia umun jika kampus merupakan menara gading yang hanya menciptakan jutaan pekerja yang siap pakai di dunia kerja dan penjara bagi mereka yang ingin belajar dengan merdeka. Tidak bisa dipungkuri karena inilah realitanya. Sebuah sekenario yang sudah tertata rapi hingga ke tingkat internasional, bagaimana sekolah terlebih Perguruan Tinggi (PT) tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa seperti apa yang tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Tapi menciptkan para pekerja di masa depan, dengan berbagai aturan yang dibuat seolah menjerumuskan semua penerus bangsa untuk mau tak mau harus mengikuti garis yang tidak memberi kecerdasan dan kebebasan tapi hanya keterampilan yang notabene akan dipakai beberapa tahun ke depan, sehingga Frank Zappa dengan beraninya berkata bahawa kampus bukan lagi sumber ilmu melain tempat untuk bercinta atau berpacaraan.
Dalam peraturan yang telah disusun dan berganti-gantinya kurikulum membuat mahasiswa tak lagi mencoba untuk berpikir kritis namun hanya belajar dan mencari kesenangan di waktu senggang, tak ada lagi yang suka berdiskusi atau ke perpustakaan, mereka lebih memilih bermain aman dengan kuliah pulang dan bersantai di tempat wisata atau hiburan. Beberapa penjaga perpustakaan mengakui bahwa jumlah mahasiswa yang berkunjung dan meminjam buku tidak mengalami peningkatan seperti jumlah mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi laporan yang hampir sama juga diperoleh ketika  tanaya mengenai jumlah pengunjung memang setiap tahun ada grafik naik tapi tidak sebanding jumlah mahsiswa baru yang datang, dan para pengujung masih didiominasi oleh orang- orang yang sama.
. Namun apakah ini merupakan satu-satunya barometer dari kesuksesaan mahasiswa? Doktrin-doktrin seperti ini sudah tertanam baik semenjak masuk PT mengadakan kuliah perdana, sehingga mahasiswa hanya fokus pada satu titik yang dia tempuh tanpa mencoba meihat apalagi menganalisis dan menanggulangi masalah sosial karena mahasiswa berkompetisi untuk cepat lulus, maka terciptakan akronim mahasiswa  kupu-kupu (kuliah pulang - kuliah pulang). Seperti tulisan dalam majalah tempo edisi Maret 2013 di atas, dari sanalah maka minat mahasiswa untuk berada di perpustakaan ditambah proses yang berbelit-belit, membuat banyak orang yang lari ke perpustakaan online yang lebih praktis dan sederhana.
 Indonesia yang menduduki posisi sepuluh besar pengguna internet didunia, numun tidak semua yang menggunakan internet membuka dan belama disitus perpustakaan online,ketika ditanya pada mahasiswa yang sering menggunakan internet, banyak pengakuan dari mereka, bahwa mereka akan lebih lama di jejaring social seperti faceebok tweeter, dan hanya membuka situs- situs berita dan mengunjungi perpustakaan hanayalah sambilan, bahakan ada yang sudah beberapa tahun menggunakan internet belulum pernah mengujungi perpustakaan online. Masyarak kususnya mahasiswa menghabiskan banyak waktu hanya untuk jejariang social, bahkan ketika ada tugas dan memncari di internet, mahasiswa tidak bisa menyaring sumber, yang terpenting apa yang di cari atau diklik lalau enter itu mencul maka tinggal dicpy lalau paste dan menjadi jawaban, plagiat disisni sungguh luar bisa terjadi, bahkaan 90 % tugas yang diambil dari internet, namun tidak mengkajai kualitas dari data tersebut dan juga terkadang mahasiswa tidak mencatumkan sembur tersebut dalam daftar pustaka.

Ini sudah memnjadi budaya baru yang terjadi pada mahasswa ditengah banjirnya informasi dan terbu luansnya ruang untuk berekspresi, sehingga tidak jarang banyak tulisan yang ada di internet adalah hasil plagiat dari mereka yang rajin untuk mengcopy data dan mempublikasiskan ulang. Dalam kemajuan dunia saat ini membawa dampak yang luar bisa bagi perkembangaan  peradaaban manusia, namun terkadang perubahaan itu tidak selalau membawa kemajuan seperti halnaya dalam hal perkembangaan internet. Namun karena perkembangan yang luar bisa baik dalam informasi ataupun pengetahuan baanyak mmahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi, sehinggaahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi, sehinggaahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi, sehingga  masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi begitu semangat untuk  masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi begitu semangat untuk  masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi begitu semangat untuk membaca, membaca, minimnya minat baca  mahasiswa karena budaya instan yang tinggal dicpy paste saja, namun sangat ironis ketika ini terus terjadi apalagi para pengajar tidak melakuakn tindakan kongkrit mengenai fenomena dari mahsiswa. Munurunya tingkat baca yang terjadi pada mahsiswa membuat mahasiswa tidak tahu bahkan tidak mau tahu mengenai informasi yang terjadi disekitarnya, buda tidak peduli atau apatis terhadap kehidupan.
Predikat sebagai penerus generesi bangsa yang disandang mahasiswa sejak dulu  ini dipertanyakaan untuk mahasiswa sekarang tidak lagi kritis bahkan apatis terhadap lingkungan social apalagi poitik, tadak ada lagi pemuda mahasiswa yang berjuang seperti Sukarno, ataupun Ki Hadjar Dewantara.   

Tidaklah salah jika sebagian besar masyarakat dan aktifis mengangap kampus sebagai menara gading yang memenjarakan seluruh akal, diakiui atu tidak anda sebagai sebagai penghini kampus namun ini adalah realita system terus membejarakan para mahasiswa konsep yang diterapkan pada pendidikan tinggi tidak menyuruh mahasiswa untuk berpikir kritis dan merdeka.
Namun hidup perjuangan masih sangat panjang dan munkin tidak ada ujungnya, , masa depan bangsa ada ditangan para mereka yang ada dikampus, dibalik penjara yang cukup mewah, namun  mahasiswa yang menentukan  arah dan kehidupan bangsa ini. Mahasiswa berjuanglah terus berpikirlah meredeka seperti Ki Hadjar Dewantara ajarkan, agar tercpailah  kehidupan bangsa yang cerdas , yang menjadi cita- cita bangsa seperti apa yang telah tertancap pada pembukaan undang- undang dasar 1945.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar