Jika anda ingin bercinta pergilah ke perguruan tinggi.
Jika anda inginkan pendidikan pergilah ke
perpustakaan.
Frank Zappa, Tokoh rock progresif (1940-1993)
Kalimat tersebut merupakan kalimat yang
diucapakan oleh Frank Zappa yang dimuat pada Koran Tempo, Minggu (08/4). Bukan rahasia
lagi atau lebih tepatnya mungkin sudah menjadi rahasia umun jika kampus merupakan
menara gading yang hanya menciptakan jutaan pekerja yang siap pakai di dunia kerja dan penjara bagi mereka yang ingin belajar
dengan merdeka. Tidak bisa dipungkuri karena inilah realitanya. Sebuah sekenario yang sudah tertata rapi hingga
ke tingkat internasional, bagaimana sekolah terlebih Perguruan Tinggi (PT) tidak
lagi mencerdaskan kehidupan bangsa seperti apa yang tertera dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945. Tapi menciptkan para pekerja di masa depan, dengan berbagai
aturan yang dibuat seolah menjerumuskan semua penerus bangsa untuk mau tak mau harus
mengikuti garis yang tidak memberi kecerdasan dan kebebasan tapi hanya
keterampilan yang notabene akan dipakai beberapa tahun ke depan, sehingga Frank
Zappa dengan beraninya berkata bahawa kampus bukan lagi sumber ilmu melain tempat
untuk bercinta atau berpacaraan.
Dalam peraturan yang
telah disusun dan berganti-gantinya kurikulum membuat mahasiswa tak lagi
mencoba untuk berpikir kritis namun hanya belajar dan mencari kesenangan di waktu
senggang, tak ada lagi yang suka berdiskusi atau ke perpustakaan, mereka lebih
memilih bermain aman dengan kuliah pulang dan bersantai di tempat wisata atau
hiburan. Beberapa penjaga perpustakaan mengakui bahwa jumlah mahasiswa yang
berkunjung dan meminjam buku tidak mengalami peningkatan seperti jumlah
mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi laporan yang hampir sama juga diperoleh
ketika tanaya mengenai jumlah pengunjung
memang setiap tahun ada grafik naik tapi tidak sebanding jumlah mahsiswa baru
yang datang, dan para pengujung masih didiominasi oleh orang- orang yang sama.
. Namun apakah ini merupakan
satu-satunya barometer dari kesuksesaan mahasiswa? Doktrin-doktrin seperti ini sudah tertanam
baik semenjak masuk PT mengadakan kuliah perdana, sehingga mahasiswa hanya fokus
pada satu titik yang dia tempuh tanpa mencoba meihat apalagi menganalisis dan menanggulangi
masalah sosial karena mahasiswa berkompetisi untuk cepat lulus, maka terciptakan
akronim mahasiswa kupu-kupu (kuliah
pulang - kuliah pulang). Seperti tulisan dalam majalah tempo edisi Maret 2013 di atas, dari sanalah maka minat mahasiswa untuk berada di
perpustakaan ditambah proses yang berbelit-belit, membuat banyak orang yang
lari ke perpustakaan online yang lebih praktis dan sederhana.
Indonesia yang menduduki posisi sepuluh besar
pengguna internet didunia, numun tidak semua yang menggunakan internet membuka dan belama
disitus perpustakaan online,ketika ditanya pada mahasiswa yang sering
menggunakan internet, banyak pengakuan dari mereka, bahwa mereka akan lebih
lama di jejaring social seperti faceebok tweeter, dan hanya membuka situs-
situs berita dan mengunjungi perpustakaan hanayalah sambilan, bahakan ada yang
sudah beberapa tahun menggunakan internet belulum pernah mengujungi
perpustakaan online. Masyarak kususnya mahasiswa menghabiskan banyak waktu
hanya untuk jejariang social, bahkan ketika ada tugas dan memncari di internet,
mahasiswa tidak bisa menyaring sumber, yang terpenting apa yang di cari atau
diklik lalau enter itu mencul maka tinggal dicpy lalau paste dan menjadi
jawaban, plagiat disisni sungguh luar bisa terjadi, bahkaan 90 % tugas yang
diambil dari internet, namun tidak mengkajai kualitas dari data tersebut dan
juga terkadang mahasiswa tidak mencatumkan sembur tersebut dalam daftar
pustaka.
Ini sudah memnjadi budaya baru yang terjadi
pada mahasswa ditengah banjirnya informasi dan terbu luansnya ruang untuk
berekspresi, sehingga tidak jarang banyak tulisan yang ada di internet adalah
hasil plagiat dari mereka yang rajin untuk mengcopy data dan mempublikasiskan
ulang. Dalam kemajuan dunia saat ini membawa dampak yang luar bisa bagi
perkembangaan peradaaban manusia, namun
terkadang perubahaan itu tidak selalau membawa kemajuan seperti halnaya dalam
hal perkembangaan internet. Namun karena perkembangan yang luar bisa baik dalam
informasi ataupun pengetahuan baanyak mmahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup
untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi,
sehinggaahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup untuk mengkaver ( membaca) semua
yang ada ataupun yang terjadi, sehinggaahasiswa yang sudah tidak lagi sanggup
untuk mengkaver ( membaca) semua yang ada ataupun yang terjadi, sehingga masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi
begitu semangat untuk masyarakat
kususnya mahasiswa tidak lagi begitu semangat untuk masyarakat kususnya mahasiswa tidak lagi
begitu semangat untuk membaca, membaca, minimnya minat baca mahasiswa karena budaya instan yang tinggal
dicpy paste saja, namun sangat ironis ketika ini terus terjadi apalagi para
pengajar tidak melakuakn tindakan kongkrit mengenai fenomena dari mahsiswa.
Munurunya tingkat baca yang terjadi pada mahsiswa membuat mahasiswa tidak tahu
bahkan tidak mau tahu mengenai informasi yang terjadi disekitarnya, buda tidak
peduli atau apatis terhadap kehidupan.
Predikat sebagai penerus generesi bangsa yang
disandang mahasiswa sejak dulu ini
dipertanyakaan untuk mahasiswa sekarang tidak lagi kritis bahkan apatis
terhadap lingkungan social apalagi poitik, tadak ada lagi pemuda mahasiswa yang
berjuang seperti Sukarno, ataupun Ki Hadjar Dewantara.
Tidaklah salah jika sebagian
besar masyarakat
dan aktifis
mengangap
kampus sebagai
menara gading yang
memenjarakan seluruh akal, diakiui atu
tidak anda
sebagai sebagai
penghini kampus
namun
ini adalah
realita system terus membejarakan para mahasiswa
konsep yang diterapkan pada pendidikan tinggi tidak menyuruh mahasiswa untuk
berpikir kritis dan merdeka.
Namun hidup perjuangan masih sangat panjang dan munkin tidak ada
ujungnya, , masa depan bangsa ada ditangan para
mereka yang ada dikampus, dibalik penjara
yang cukup mewah, namun mahasiswa yang menentukan arah
dan kehidupan bangsa ini. Mahasiswa berjuanglah terus
berpikirlah meredeka seperti Ki Hadjar Dewantara ajarkan, agar tercpailah kehidupan bangsa yang cerdas , yang menjadi
cita- cita bangsa seperti apa yang telah tertancap pada pembukaan undang-
undang dasar 1945.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar