Kamis, 25 April 2013

dari pojok kantin



Aku datang memang tak sepagi seperti dulu awal semester, namun ini adalah pagi menurut tataran mereka yang sudah bepenglaman di kampus, yang sudah makan garam dan bisa dibilang senior, sebab aku tiba dikampus sekitar pukul delapan empat lima menit.
Aku tidak melihat mereka yang leibih senior dari aku, yang biasa duduk dan nangring di parkiran dibawah pohon atau di kantin tengah sebelah kantin angkringan itu, disana memang ada banyak orang hamper semua meja penuh, tak ada meja yang kosong, parkiranpun penuh dengan kendaraan roda dua, yang didominasi dengan motor keluaran baru dan metic, mungkin zaman-nya kali untuk metic tak peduli laki waria ataupun wanita, semua metic, namun aku hamper tertawa dengan teriakan keras seperti aku kalau beceria bersama sahabat lama, ketika mata ini memperhatikan tulisan sebuah stiker dimotor vixon, “ cowok kog pake metic, sekalian adja dandan pake lipstik” , namun kali ini aku hanya sendiri sehingga aku hanya tersenyum, menyaksikan semua ini, melihat dunia yang tidak jadi  kimiat menurut perhitungan suku maya.
Dikantin banyak orang becerita, suaranya lebih riuh ketika kuliah yang kosong, obrolan nya sangat serius, raut mukanya tak ceria layaknya anak muda dipagi hari yang menceritakan tentang kencannya semalam atau tentang semi final liga campions eropa, yang terjadi semalam. Mereka tak hanya laki- lagi, perempuan juga terjadi semalam antara real Madrid vs Borsi Dordmun, tak hanya laki- laki, perempun- perempuan manis juga itu begitu cemas, Nampak jelas dari garis yang tampk dimuka mereka, seolah sebuah malapetaka akan datang pikirku, namun aku lansung memesan segelas kopy panas kesukaanku sambil mencari tempat duduk yang masih tersisa.
Kini aku mulai mengerti dan tau, semua berawal dari aksi yang dilakukan oleh  mereka yangmasih,  mungkin peduli dengan lingkungan kampus, dengan orasi- orasi panjang dengan tindakaan yang menurut mereka tidak pernah turun aksi adalah tindakan tidak berintelek, namun mereka tidak pernah tau bahwa itu adalah reaksi anak muda yang masih peduli dengan sesame dan lingkungan.
“ Tidak bisa seperti itu, seharusnya musyawarah dulu, baru aksi”, kata anak muda yang sambil menghisap rokoknya. Namun aku tak tau seberapakan anak muda itu bergelut dan berhadapan dengan birokrasi negeri yang selalu menjujung tinggi motos masa mas lulu, dan aku tak paham seberapah pengalan ia, turun kejalan, namun aku tidak yakin anak yang paling banyak ngomong ini pernah turun ke jalan utuk membela dirinya terhadap kesewenangan kekuasaan kampus yang kicil, apalagi masyarak Negara, tanganya seperti tangan bayi, mukanya seperti seorang wanita yang baru saja merayakan pesta penikahan. Merka mungkin bagian dari mahsiswa kunang-kunang ( kuliah nangring- kuliah nangring), yang sering temanku bercerita, mereka yang selau bersantai ditangga- tangga moll, dan liff seper indo, mereka yang narsis di tempat wisa, entah apa yang telah merasuki pikiran dari pada mereka, mereka tak lagi tau politik negeri ini seperti apa??, mereka tidak lagi peduli terhadap juaatan orang yang setiap hari hiruk pikuk bekerja dengan upah yang begitu murah, penindasaan kini tak tak lagi peduli, mereka tak  lagi memikirkan orang yang ada disamping kiri kanan, sikap masa bodoh kini semakin menjadi- jadi, semua yang aku lihat tak lagi ada yang bertampang seperti  soewardi soeningrat, seokarno, ataupun hatta, aku tidak melihat ada cahaya yang siap membela dirinya, rakyat dan negerinya, kini aku hnya melihat cahaya seperti boy band dari korea yang menjjikan itu.
“Ada apa bung”.? Aku, mencoba bartanya untuk libih mendalam apa yang aku        dapat lewat pesan singkat kalau, pembing PPL-Ku, ngambek dan menggunurkan diri, akibat lansung dari aksi kemarin. “  itu lo, gara- gara demo, dosen pada marah- marah, dan tidak lagi mau menjadi pembibing” jawabnya dengan sejuta ekspresi kekesalan. Sungguh aku tak paham permainan apa yang sedang terjadi, sungguh dosen- dosen yan sudah menunmpuh S2 dan S3 begitu cepat mengambil suah keputusan tanpa menconba mengakaji dapak dari dari keputusan itu, suatu tindakan yang sangat tidak terpuji lagi dan mungkin lebih keji dari aksi demo yang dilakukan oleh mereka yang belum menyelesaikan S1, mereka yang hanya berijasah SMA. Sungguh ironis ketika nama dosen pembibingku disebutkan pertama kali, sebai desen yang mengundurkan diri bimbingan untuk PPL dan Sripsi, bukan bermaksud untuk meledek namun ini sungguh sangat lucu karean dia adalah orang nomor satu, di universitas ini dan lagi menempuh pendididakan yang tinggi yang ketika selesai, gelar P.hd, akan selalu mengikuti dan menempel dibelakang namanya.
Seabab sunguh tak seharusnya mereka yang berpendidikan tinggi dan mereka yang di matematika tidak menggunakan ilmya dalam kihidupan sehari-hari, pengambilan sebuah keputusan yang tanpa mencoba menggali danpak dari putusan ini, apalagi menggunkakan kajian ilmiah dalam penggambilan sebuah keputusan, memang bukan berarti membuat sebuah tesis nanum bukankah seharusnya mereka yang terdidik dan berpendidikan tinggi lebih menggunakan logika yang sehat daripa hanya betumpu pada sebuah emosi belaka, yang hanya menwa sejuuta masalah akan menysul, bekan ini perbedaan yang nyata, untuk menujukan garis signifikan dalam pemikiran.
Namun ketika mencoba kembali melihat reaksi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam melakukan aksi, mengenai aksi yang hingga tindakan tidak terpuji tanpa melakukan musyawarah.  Mereka yang hanya bermodalkan pendidikan SMA belum bisa dan dengan gejolakan darah muda hingga tidak musyawarah dam menyapaikan aspirasi, namun  kenapa mereka yang berpendidikan tinggi yang sudah menempuh pendidikan S2 dan S3, tidak melakukan musyarwarah dengan mahasiswa, yang menjadi tanggung jawabya untuk membimbing.? Disini tergambar jelas bagai mana kredibiltas para pengajar yang ada pada subuah Universitas, dan parahnya ketika trjadi di fakultas keguran, yang setiap tahunya mencetak ribuan guru, yang akan mencerdaskan kehidupan bangsa katanya.
Sadar atau tidak, ini adalah sebuah gambaran,sebuah  letupan kesuksesan yang kecil, mereka para demonstran yang telah lelah berada dibawah sinar matahari dan asap kendaraan,   telah duduk tersenyum sambil menikamati kopy atas keberhasilan tuntutannya. Namun  mereka yang menikmatinya, mereka yang nasibnya dibelakan sungguh tidak meresa , jangankan untuk sebuah ucapan terimakasih dukukungan penyebaran isu dan pembelaan sungguh tak terjadi, ini seperti sorang anak  yang keluar dari kandangnya menikmati hari dan menatuk jagung pembrian tuannya lalu pergi, dan entah termakan zakan,  namun ketika ayan itu pulang pasti suatu saat ia akan berguna bagi tuannya, namun ini sunggah tidak ada, seperti sebuah hayalan gila dari seorang yang tak tau arah hiduonya, sehingga ia tak tau Tuhan telah memberinya hidup, atau seperti udara yang telah membrikan kehupan bagi dia yang sudah gila, yang tak mungkin lagi sadar dan kemali pada kehupan.

 Demonstrasi adalah bagian dari  tatanan social yang menggukan kosep demorasi, seperti yang negeri ini, dan univesitas,  musayawarah untuk mencapai mufakat yang di ulukan oleh orang yang menganggap dirinya berbangsa Indonesia adlah sebuah halusinasi untuk situasi sekarang, karena sisterm itu sudah dihilangkan dan sisetem demokrasi. Suatu tatanan social yang mengedepakan system demokrasi, akan selalu terjadi suatu gerakan yang namanya demonstrasi. Sauat tatantan social yang menggukan kosep demokrasi akan dinilai mati atau dipertanyakan ketika tak ada gerakan demonstrasi  didalamnya.
Namun saking skeptisnya bangsa ini, sehingga begitu bencinya  terhadap mereka ( aktivis) pergerakan, apakan ini gambaran bahwa Negara sudah mengalami kejuan, sihingga masyarakatnya sudah sejahtera, ataukan ini sebuah gambaran bahwa Negara yang katanya, sangat sosialis dengan semboyan gotong royong sudah hancur berantakan, sehingga ketika merka yang terlempar dari kehidupan layak mencoba berteriak mencari keadilan dilarang, menciptakan sebuah septistme terhadap pergerakan demonntrasi. Teriakan atau seruan untuk tidak mengikuti aksi terus dikumandangkan sejak penurus bangsa ini mulai masuk di suatu fase baru yaitu universitas, untuk menghilangkan budaya kritis dan pemberontakan, ataukan adakah dosen- dosen dan mahasiswa sudah mendapat bayaran dari kaum borjuis untuk memuluskan budaya penghisapan pada manusia.
Sebuah harapan kecil dari sebuah warung kopy agar kita sadar akan pentingnya seatu demontrasi di negeri yang hancur musyawarahnya, karena itulah jalan untuk menentang kesewenangan, karena kita pasti tidak ikut dalam pengabilan keputusan, karean musyawarah mencapai mufakat adalah sebuah fatamorgana di tahun 2013 ini.

Yogyakarta, 26 April 2013



      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar