Sabtu, 25 Mei 2013

di balik frekwensi bareng aji jogja

Diskusi bedah film documenter tentang perjuangan seorang buruh pena, tau kerenya wartawan dan orang yang sok mencari keadilan, mungusung judul dibalik frekwensi yang berlasung dipendopo Lkis, banguntapan Yogyakarta ini, dihadiri oleh sebagian dari awak media, baik yang di pers umum ataupun bagi mereka yang berproses dan sudah berpengalaman di persma mahasiswa, media yang menggap dirinya media paling indepen dibandingkan media menstrim yang sarat akan keuntungan dan kepentingan akan politik.

Diskusi bedah film yang mengakat tokoh Luviana itu mengadirkan pembicara utama andreas yang dari aliansi jurnalis indepen Yogyakarta dan pak salim. Film yang berdurasi panjang sekitar 2 jam lebih itu sedikit membawa kebosanan namun sedikit terhibur karena film dokumter ini member sedikit informasi tentang media eletronik ( TV ), bagi mereka yang mungkin selama ini telah dinanabobokan oleh tayangan MTTV dan juga mesik pagi ataupun tolk sow yang terkadang ngawur, namun tv berita yang  ada di bumi Indopahit kata Andreas Harsono. Media  ternyata hanya sebagai kendaraan bagi kaum tertentu yang berkempentingan dan juga yang menguasai media tersebut, namun kabar kepemilikan dan pemanfataannya ini adalah sebuah rahasia umum, yang tidak perlu begi dramtis mengenai  mungkin pesan yang ngin disampaikan, tapi aku perlu menyalahkan yang begitu kaget, sebab tayangan yang dikomsumsi oleh masyarakat sekarang adalah sinetron yang keget hingga berminit-menit, sehingga membawa dapak pada pola piker pada masyarakat untuk menanggapai film dibalik frekwensi yang gemar ditonton di tahun 2013 ini.
Alur cerita yang membuat pusing apalagi ketika menambil dua tokoh membuat film ini sedikit membinggungkan, selain tidak terangnya fokus film ini juga tidak to the point, bertele- tele hingga memakan wktu dua jam lebih, diperparah ending yang anti klimaks, sehingga para penonton jadi kecewa, waktu yang lama yang membuat semua pegal- pegal ternya akhirnya tidak sesuai yang diharapkan, namun terlepas dari itu film ini memang perlu ditonton oleh mereka yang suka ninton satu tv, atau bahkan mereka yang suka nonton sinetron dan FTV,sebab ketika kita berada didepan tv berarti kita lagi melakukan konsumsi yang membuat Harytanu jadi tambah kaya.
Dalam pembahasaan malam itu   dengan mengambil sampel dari film dibalik frekwensi itu bahwa  Media siar sekarang telah banyak yang menyalahgunakan frekuensi, menggunakannya untuk kepentingan sekelompok orang,sementara pada prinsipnya, frekuensi itu tidak diperjualbelikan namun frekuensi hanya dipinjamkan oleh Negara untuk digunakan dalam kepentingan bersama (rakyat),media siar juga banyak melakukan  pelanggaran terhadap undang-undang penyiaran. Diperparah lagi UU penyiaran memiliki banyak  kekurangan dalam kekuatan bahasanya hingga akhirnya terbentuk ambiguitas.
Monopoli media sangat gila, Contohnya Hary Tanoe memiliki 40 media massa, artinya ada dominansi kepemilikkan media yang ada di bumi Nusantara. Media yang seyogyanya sebagai sebagai media pilar keempat demokrasi harus Mampu melakukan control social, dan perjanan roda demokrasi. Namun fakta dilampangan berkata lain, media massa justru dimonopoli. Parahnya, yang memonopoli itu politisi, tentu hal ini sangat bertentangan dengan fungsi media. Film  dibalik frekwensi menggambarkan Adanya peran opini politik yang menggunakan media sebagai alatnya. Ini titik dimana media malah memperbodoh massa, yang artinya media telah lari dari fungsinya bahkan sudah berbalik arah dari funsi sesungguhnya.Kekuatan modal dan politik yang bermain, menjauhkan kita dari harapan terhadap peran media, media dijadikan instrument untuk pengamanan industry bisnis, dan politik.
penggawa persma dalam diskusi


Namun, Agus susanto mencoba berbicara dengan  masyarakt melek media.  Dewan pers  dan Persatuan Wartawan Indonesia  memakai anggaran APBN. untuk menuju melek media yang pilar tertinggi memakai anggaran negara untuk masyarakat melek media  gampang- gampang susah karena sistem anggaran sudah ada dan wartawan ada, terkait frekuensi yang dimiliki perorangan jangankan masyarakat umum temen- teman  persma masih belum tau, sehingga begitu dramtisnya menanggapi film nin, sesuatu yang tak seharunya terbaji, sebab orang media harunsya sedikit tau tentang semua bidang ilmu apalagi mengenai media, seperti halnya frekwensi.
Skala masalah yang di tampilkan sangat kecil dalam film ini, sebab si luviana sendiri masih bekecukupan suaminya masih kerja, masih bisa kredit dan masih menaiki mobil ke ATM, walau terkadang naik angkot mungkin biar sedikit  menarik simpati, sebab kalau omongin kesusahn wartawan masih ada yang belum tentu bisa membelikan rumah yang bagus dan bahkan ada yang hingga bingung untuk member makanan untuk keluarga, dan tidak ada media yang minampilkannya. Menarik  juga adalah dokumentasi yang menunjukan konflik langsung face to face  rakyatnya dengan pemilik media, bagaimana pemilik memanfaatkan medianya untuk kepentingan seperti yang dikisahkan dalam film dibalik frekwensi ini.
film ini menunjukan konsekuensi  frekuensi  yang dimiliki segelintir orang  yang mamanfaatkannya sesuai kepentingan pemilik, tujuan film ini sebagai media kampanye mengembalikan frekuensi publik ke kedudukan semula. Film tadi sebenarnya hanya kisah klasik, kisah lama. Isu tersebut sebenarnya sudah lama, selain itu di Film dibalik frekwensi juga menggambarkan  demo yang tidak menghasilkan apa-apa. Film tadi sebenarnya hanya kisah klasik, kisah lama. Isu tersebut sebenarnya sudah lama, terlepas dari begitu banyaknya kekurangan, film ini  sedikit membawa cahaya kecil untuk mengatakan bahwa frekwensi adalah milik kita semua.
“ Dari film dibalik frekwensi ini tergambar jelas dan menunjukkan secara langsung pertarungan face to face antara rakyat dengan penguasa yang diwakili oleh luviana dan surya paloh, selainitu film ini menunjukkan bagaimana bahaya nya ketika media dimiliki kepentingan partai,Skala masalah memang tidak ada apa apanya. Tetapi nilai film ini menunjukkan owner tunggal bisa melakukan segala galanya Film ini sebagai media kampanye untuk mengembalikan frekuensi kepada rakyat”.
tidak hanya dalm wacan, naumun juga turun kejalan
foto saat may day







Tidak ada komentar:

Posting Komentar