Diskusi bedah film documenter tentang
perjuangan seorang buruh pena, tau kerenya wartawan dan orang yang sok mencari
keadilan, mungusung judul dibalik frekwensi yang berlasung dipendopo Lkis,
banguntapan Yogyakarta ini, dihadiri oleh sebagian dari awak media, baik yang
di pers umum ataupun bagi mereka yang berproses dan sudah berpengalaman di
persma mahasiswa, media yang menggap dirinya media paling indepen dibandingkan
media menstrim yang sarat akan keuntungan dan kepentingan akan politik.
Diskusi bedah film yang mengakat tokoh
Luviana itu mengadirkan pembicara utama andreas yang dari aliansi jurnalis
indepen Yogyakarta dan pak salim. Film yang berdurasi panjang sekitar 2 jam
lebih itu sedikit membawa kebosanan namun sedikit terhibur karena film dokumter
ini member sedikit informasi tentang media eletronik ( TV ), bagi mereka yang
mungkin selama ini telah dinanabobokan oleh tayangan MTTV dan juga mesik pagi
ataupun tolk sow yang terkadang ngawur, namun tv berita yang ada di bumi Indopahit kata Andreas
Harsono. Media ternyata hanya sebagai
kendaraan bagi kaum tertentu yang berkempentingan dan juga yang menguasai media
tersebut, namun kabar kepemilikan dan pemanfataannya ini adalah sebuah rahasia
umum, yang tidak perlu begi dramtis mengenai
mungkin pesan yang ngin disampaikan, tapi aku perlu menyalahkan yang
begitu kaget, sebab tayangan yang dikomsumsi oleh masyarakat sekarang adalah
sinetron yang keget hingga berminit-menit, sehingga membawa dapak pada pola
piker pada masyarakat untuk menanggapai film dibalik frekwensi yang gemar
ditonton di tahun 2013 ini.
Alur cerita yang membuat pusing
apalagi ketika menambil dua tokoh membuat film ini sedikit membinggungkan,
selain tidak terangnya fokus film ini juga tidak to the point, bertele- tele
hingga memakan wktu dua jam lebih, diperparah ending yang anti klimaks,
sehingga para penonton jadi kecewa, waktu yang lama yang membuat semua pegal-
pegal ternya akhirnya tidak sesuai yang diharapkan, namun terlepas dari itu
film ini memang perlu ditonton oleh mereka yang suka ninton satu tv, atau
bahkan mereka yang suka nonton sinetron dan FTV,sebab ketika kita berada
didepan tv berarti kita lagi melakukan konsumsi yang membuat Harytanu jadi
tambah kaya.
Dalam pembahasaan malam itu dengan mengambil sampel dari film dibalik
frekwensi itu bahwa Media siar sekarang
telah banyak yang menyalahgunakan frekuensi, menggunakannya untuk kepentingan
sekelompok orang,sementara pada prinsipnya, frekuensi itu tidak
diperjualbelikan namun frekuensi hanya dipinjamkan oleh Negara untuk digunakan
dalam kepentingan bersama (rakyat),media siar juga banyak melakukan pelanggaran terhadap undang-undang penyiaran.
Diperparah lagi UU penyiaran memiliki banyak
kekurangan dalam kekuatan bahasanya hingga akhirnya terbentuk
ambiguitas.
Monopoli media sangat gila, Contohnya
Hary Tanoe memiliki 40 media massa, artinya ada dominansi kepemilikkan media
yang ada di bumi Nusantara. Media yang seyogyanya sebagai sebagai media pilar
keempat demokrasi harus Mampu melakukan control social, dan perjanan roda
demokrasi. Namun fakta dilampangan berkata lain, media massa justru dimonopoli.
Parahnya, yang memonopoli itu politisi, tentu hal ini sangat bertentangan
dengan fungsi media. Film dibalik
frekwensi menggambarkan Adanya peran opini politik yang menggunakan media
sebagai alatnya. Ini titik dimana media malah memperbodoh massa, yang artinya
media telah lari dari fungsinya bahkan sudah berbalik arah dari funsi
sesungguhnya.Kekuatan modal dan politik yang bermain, menjauhkan kita dari
harapan terhadap peran media, media dijadikan instrument untuk pengamanan
industry bisnis, dan politik.
| penggawa persma dalam diskusi |
Namun, Agus susanto mencoba berbicara
dengan masyarakt melek media. Dewan pers
dan Persatuan Wartawan Indonesia
memakai anggaran APBN. untuk menuju melek media yang pilar tertinggi
memakai anggaran negara untuk masyarakat melek media gampang- gampang susah karena sistem anggaran
sudah ada dan wartawan ada, terkait frekuensi yang dimiliki perorangan
jangankan masyarakat umum temen- teman persma masih belum tau, sehingga begitu
dramtisnya menanggapi film nin, sesuatu yang tak seharunya terbaji, sebab orang
media harunsya sedikit tau tentang semua bidang ilmu apalagi mengenai media,
seperti halnya frekwensi.
Skala masalah yang di tampilkan
sangat kecil dalam film ini, sebab si luviana sendiri masih bekecukupan
suaminya masih kerja, masih bisa kredit dan masih menaiki mobil ke ATM, walau
terkadang naik angkot mungkin biar sedikit
menarik simpati, sebab kalau omongin kesusahn wartawan masih ada yang
belum tentu bisa membelikan rumah yang bagus dan bahkan ada yang hingga bingung
untuk member makanan untuk keluarga, dan tidak ada media yang minampilkannya. Menarik
juga adalah dokumentasi yang menunjukan
konflik langsung face to face rakyatnya
dengan pemilik media, bagaimana pemilik memanfaatkan medianya untuk kepentingan
seperti yang dikisahkan dalam film dibalik frekwensi ini.
film ini menunjukan konsekuensi frekuensi yang dimiliki segelintir orang yang mamanfaatkannya sesuai kepentingan
pemilik, tujuan film ini sebagai media kampanye mengembalikan frekuensi publik
ke kedudukan semula. Film tadi sebenarnya hanya kisah klasik, kisah lama. Isu
tersebut sebenarnya sudah lama, selain itu di Film dibalik frekwensi juga
menggambarkan demo yang tidak
menghasilkan apa-apa. Film tadi sebenarnya hanya kisah klasik, kisah lama. Isu
tersebut sebenarnya sudah lama, terlepas dari begitu banyaknya kekurangan, film
ini sedikit membawa cahaya kecil untuk
mengatakan bahwa frekwensi adalah milik kita semua.
“ Dari film
dibalik frekwensi ini tergambar jelas dan menunjukkan
secara langsung pertarungan face to face antara rakyat dengan penguasa yang diwakili oleh luviana dan surya paloh,
selainitu film ini menunjukkan bagaimana bahaya nya ketika
media dimiliki kepentingan partai,Skala masalah memang tidak ada apa apanya. Tetapi
nilai film ini menunjukkan owner tunggal bisa melakukan segala galanya Film ini sebagai
media kampanye untuk mengembalikan frekuensi kepada rakyat”.
![]() |
| tidak hanya dalm wacan, naumun juga turun kejalan foto saat may day |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar